Sesudah Ultah

Sebelumnya, maafkan saya atas kualitas foto yang kurang prima.

Foto ini diambil beberapa hari lalu, dengan gadget seadanya, saat Gending Bagus Yudas Abi Saskara merayakan ultah pertama. Bocah yang berbaju hitam, itulah Gending. Yang memangku adalah ibunya. Bocah satunya lagi, yang berbaju putih dan digendong papanya, adalah Klething. Klething bukan saudara kandung Gending. Laki-laki dan perempuan yang masing-masing pegang anak itu bukan suami-istri. Saya jelaskan sejak awal biar tidak keliru. Sedangkan bocah tua berkemeja kotak-kotak di sudut kanan gambar, itu figuran saja. Boleh diabaikan.

Semula nama Gending tidak sepanjang itu. Waktu ia baru lahir, bapaknya mengirim SMS pada saya bahwa anaknya ia beri nama Biru. Saat saya ke Bali beberapa bulan lalu, namanya sudah berubah jadi Gending Bagus Saskara. Konon, itu nama pemberian tetua. Setelah itu ketambahan Abi. Setelah itu lagi, sesaat sebelum akta kelahiran dibuat, bapaknya menambahkan nama Yudas. Andai tempo hari hari bapaknya iseng memberi anaknya kado sebuah nama, pasti akan lebih panjang lagi. Semoga nama sederet itu muat di pagina akta. Di lempeng coklat penghias kue ultah Gending tempo hari–yang akhirnya saya embat sendiri–nama yang termuat cuma Gending Bagus Saskara.

Sebetulnya saya keliru kalau mengatakan Gending merayakan ultah pertama. Yang merayakan adalah para tetua. Kami yang sibuk menyiapkan kue dan hidangan, kami juga yang sibuk melenyapkan. Gending sendiri lebih tertarik pada lilin yang dia belum sanggup tiup. Sebab itu, usai berdoa, yang meniup adalah bapaknya. Gending cuma heran lihat api mati tertiup karena dia pikir itu sulap. Mungkin begitu. Lama-lama saya pikir saya bisa baca pikiran bayi.

Mungkin memang begitulah adat ultah pertama. Orangtua sibuk membahagiakan anaknya, saat si bocah sendiri belum siap meniup lilin, apalagi menghitung umurnya. Dalam kasus (eh, kasus?) Gending, mungkin tidak bisa dibilang sibuk. Perayaannya sederhana saja. Bertempat di bekas kosan bapaknya di Salatiga. Jauh-jauh datang dari Bali ke Salatiga bukan untuk merayakan ultah Gending. Itu semata karena bapaknya dapat undangan kontes tato di kota ini. Sedangkan orangtua lain, saya tahu, merayakan ultah pertama anaknya dengan lebih mewah dan repot. Ada yang sampai sewa restoran segala.

Intinya adalah perayaan ultah pertama bukan keinginan si anak. Itu murni keinginan orangtua yang ingin membahagiakan anaknya. Salahkah? Kelirukah? Tidak salah. Tidak keliru. Si anak bisa riang karena mendapat hari yang meriah dan penuh senyuman orang. Atau menangis bertemu badut.

Mungkin ini semacam bentuk investasi perhatian. Beberapa tahun sesudah perayaan itu, si anak mungkin tersenyum haru melihat foto-foto perayaan ultah pertamanya. Ia menjadi yakin bahwa orangtuanya menyayanginya. Saya bilang mungkin karena saya sendiri tidak mengalami perayaan ultah pertama–dan seterusnya. Orangtua saya termasuk golongan yang menganggap setiap hari sama. Tiada yang spesial.

Bukan berarti saya tidak pernah punya kerinduan atas sesuatu yang spesial itu. Menyaksikan teman-teman saya dirayakan ultahnya–di sekolah maupun rumah–mungkin sempat memantik romantisme perayaan ultah kanak-kanak dalam diri saya. Saya pernah merasa bahwa pada hari ultah saya boleh berbuat apa saja. Merasa berhak dan wajib diperlakukan istimewa.

Masih tersimpan dalam ingatan, bagaimana saya dongkol pada Ibu karena memarahi saya pada ultah yang kesembilan. Sebab kemarahannya saya lupa. Yang pasti saya berulah, dan suasana hati Ibu sedang gawat. Jadi saya kena damprat. Setelah itu saya merajuk pada Bapak dengan bilang bahwa semestinya saya tidak dimarahi pada hari ultah, senakal apapun itu. Ibu lantas pergi. Saat pulang, tangannya menenteng bola basket yang beberapa hari sebelumnya saya pinta. Kedongkolan saya ganti senang campur gengsi waktu menerima bola itu.

Itu umur sembilan tahun. Bagaimana saat remaja?

Bapak tahu saya suka makan. Jadi biasanya dia mentraktir menu favorit saya waktu itu: hot plate noodle. Sambil makan kami ngobrol. Dia tanya-tanya soal keinginan saya. Keinginan saya tak lain dan tak bukan adalah tambah porsi. Sebetulnya seporsi hot plate saja sudah bikin kenyang. Tapi karena ditraktir, saya jadi lebih militan. Akhirnya tambah. Porsi kedua tandas, kemudian porsi ketiga. Ternyata saya tak mampu habiskan. Setelah lebih tua setahun saya jadi lebih mengenal porsi perut saya. Sungguh pelajaran hidup yang berharga.

Perayaan paling “hore” terjadi saat saya berumur 17 dan 21. Pada umur 17, teman-teman sekolah berinisiatif membelikan saya tar. Tidak semudah itu. Saya disuruh nyanyi dan push up di depan umum. Tidak sampai disiram ramuan dan diceploki telur busuk. Kemudian ada satu orang yang secara khusus menunggu saya pulang dari sekolah sore-sore untuk menghadiahkan senyum termanisnya. Kemudian lagi ada satu orang yang datang ke rumah membawa kado nastar dan kaos basket. Padahal saya akan lebih senang andai kedua orang itu menghadiahkan diri mereka.

Itu SMA. Saat kuliah, saya jadi makhluk yang lebih asosial. Maka saat mencapai umur 21 saya tak menduga bahwa teman-teman akan merepotkan diri untuk menghadiahi saya dengan kantong tidur gunung, gulai kambing langganan, dan skenario penculikan ke rumah karaoke. Setiba di sana saya mogok nyanyi. Saya pasang muka jaim, karena syok campur senang. Lebay sekali. Sayangnya ini benar. Reaksi saya tampaknya kurang memuaskan mereka.

Jadi apakah hari ultah harus diistimewakan? Atau biasa saja?

Mungkin kita boleh anggap keistimewaan hari ultah sebagai hal yang biasa saja. Banyak orang merayakannya. Dan karena sudah biasa, ia jadi hambar dan hilang. Sesudah ultah kita hanya bertambah tua. Belum tentu tambah bijaksana. Lagipula, bijaksana itu apa?

Bijaksana atau bijaksini, orang tetap membuat perayaan demi perayaan. Meski rasanya kian hambar, ini ada gunanya juga. Paling sedikit, untuk merangsang silaturahmi. Kalau dulu kita punya semboyan “makan nggak makan asal kumpul”, sekarang orang cenderung “nggak kumpul kalau nggak makan-makan”. Dalam perayaan, orang bisa bertemu orang, ngobrol sambil makan, atau sebaliknya. Perhitungkanlah itu. Bukan hal baru bahwa makanan bisa menyambung—dan memutus—persaudaraan antarmanusia. Semua orang butuh makan. Dan perhatian.

Perayaan ultah bisa bermakna sosial sekaligus eksistensial–semoga tidak sial. Lewat hubungan dengan orang lain, orang bisa merasa diakui atau dilupakan keberadaannya. Saya tahu satu perempuan yang pernah merajuk karena pacarnya baru mengucapkan selamat ultah pada pagi hari, bukan tengah malam seperti yang diharapkannya. Si perempuan mengira bahwa pacarnya lupa. Dan lupa tanggal ultah disetarakan dengan lupa terhadap eksistensi si perempuan. Lupa terhadap eksistensi diterjemahkan sebagai tidak lagi cinta. Usut punya usut, si pacar tetap ingat. Ia hanya tidak merasa perlu mengucapkan selamat pada tengah malam karena itu kalanya orang istirahat. Ternyata hasrat untuk diperlakukan istimewa saat ultah tidak cuma hidup di kalangan bocah dan remaja, tapi juga orang dewasa.

Jadi apa pendapat Anda soal hari ultah? Ada teman saya yang hingga ultahnya ke-17 masih ingin jadi Spiderman. Bagaimana pengalaman Anda?

Omong-omong, ultah alias ulang tahun mungkin tak pernah benar-benar terjadi. Bukankah yang terulang adalah tanggal dan bulannya? Pertanyaan ini untuk Gending.

Ralat: Dalam kasus (eh, kasus?) Gending, ultah pertama bukan keinginan orangtuanya, tapi teman orangtuanya yang belikan kue dan segala macam. :D