Spiral Pengetahuan

knowledge-spiral

Manajemen pengetahuan adalah usaha-usaha untuk menjaga spiral pengetahuan tetap berputar agar pengetahuan baru dapat terus tercipta. Spiral pengetahuan sendiri adalah sebuah model yang dipakai untuk menjelaskan bagaimana pengembangan pengetahuan terjadi. Di dalam model ini terdapat konsep pengetahuan eksplisit (explicit knowledge) dan pengetahuan tasit (tacit knowledge).

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang terdokumentasi, tersebar, dan dapat dipahami orang lain. Media dokumentasinya bisa beraneka, mulai tulisan, gambar, suara, juga video. Sedangkan pengetahuan tasit adalah pengetahuan yang tersembunyi di dalam kepala. Pengetahuan ini masih bersifat abstrak, informal, juga sulit dikomunikasikan kepada orang lain. Keberadaan pengetahuan tasit inilah yang disebut oleh Michael Polanyi dengan kata-katanya, “Pengetahuan kita lebih banyak daripada yang sanggup kita ceritakan.”

Di dalam spiralisasi pengetahuan, pengetahuan tasit harus diubah menjadi pengetahuan eksplisit, untuk kemudian diubah lagi menjadi pengetahuan tasit yang baru, untuk kemudian diubah lagi menjadi pengetahuan eksplisit yang baru. Muter-muter terus supaya pengetahuannya bisa berkembang! Dan konversi pengetahuan, dari tasit ke eksplisit lalu ke tasit lagi, dilakukan melalui empat tahap sirkular, yakni internalisasi, sosialisasi, eksternalisasi, dan kombinasi.

Internalisasi adalah proses pengubahan pengetahuan eksplisit menjadi tasit. Cara yang paling baik untuk tahap ini adalah belajar dengan praktek atau learning by doing bahasa Jawanya. Sebagai contoh yang lebih konkret, misalkan saja diri saya sebagai seorang bloger pemula yang sedang memiliki hasrat menggebu-gebu untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan di bidang blog. Internalisasi dalam hal ini saya mulai dengan membaca dokumentasi (pengetahuan eksplisit) yang memuat panduan dasar tentang pembuatan blog dan kemudian mempraktekkannya.

Dengan mempraktekkannya sendiri, saya akan benar-benar memahami cara membuat sebuah blog. Dan dalam praktek saya tersebut, saya mungkin bisa menemukan cara-cara baru yang lebih mudah dan efektif daripada cara yang saya pelajari dari panduan blog yang terdahulu. Apapun yang saya dapatkan pada tahap ini, yang jelas kini saya sudah mendapatkan sebuah pemahaman (pengetahuan tasit) tentang cara-cara pembuatan blog.

Saya kemudian bisa memperkaya pemahaman yang telah saya punya dengan melakukan diskusi (sosialisasi) dengan bloger-bloger lain yang lebih berpengalaman. Dari diskusi tersebut, saya bisa mendapat informasi tambahan tentang cara-cara membuat blog yang baik nan betul. Intinya, sosialisasi di sini adalah sebuah proses memperkaya pengetahuan tasit yang telah didapat. Pada tahap ini, pengetahuan tasit diubah menjadi pengetahuan tasit yang lebih kaya.

Selanjutnya, dengan berbekal pengetahuan tasit yang saya miliki, saya mulai menuliskan (eksternalisasi) sebuah panduan blog baru versi saya sendiri. Dalam tahap eksternalisasi ini, pengetahuan tasit saya diubah menjadi sebuah pengetahuan eksplisit dalam bentuk tulisan.

Untuk meningkatkan bobot tulisan saya, maka wajib hukumnya saya mencari referensi-referensi pendukung (kombinasi) dari panduan blog lain yang bisa memperkaya panduan blog yang saya tulis. Pada tahap kombinasi ini, sebuah pengetahuan eksplisit diubah menjadi pengetahuan eksplisit lain yang lebih berbobot.

Setelah menyelesaikan satu putaran penuh dari spiral pengetahuan, maka akan timbul pengetahuan baru yang lebih maju daripada pengetahuan sebelumnya. Itu kondisi idealnya.

Sekarang tiba gilirannya untuk menjawab pertanyaan “mengapa.”

Manajemen pengetahuan menjadi begitu penting karena saat ini adalah era berbasis pengetahuan. Di era ini, kemajuan perekonomian suatu negara sangat ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sampai-sampai muncul istilah “perekonomian berbasis pengetahuan” (knowledge based economy), dimana pengetahuanlah yang menjadi determinan utama atas kemajuannya.

Semakin strategisnya peran pengetahuan di sini dapat dipahami dengan melihat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat menghasilkan teknologi baru yang pada gilirannya akan memampukan sebuah perekonomian berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Hal ini tentu akan meningkatkan daya saing perekonomian suatu negara. Naiknya daya saing perekonomian akan menaikkan kesempatan suatu negara untuk mencapai kemakmuran bagi rakyatnya. Dan kalau kemakmuran rakyat tercapai, maka kemiskinan juga bisa diberantas.