Status Manusia Modern

Sedikit sekali yang berhasil saya ketahui tentang modernitas. Secara sederhana, biasanya orang akan mempertentangkan yang modern dengan yang tradisional — yang dianggap kuno dan terbelakang. Orang juga biasa memisah jaman menjadi modern dan pascamodern. Anthony Giddens lewat buku The Consequences of Modernity mengatakan: “Alih-alih memasuki periode pascamodernitas, kita bergerak ke dalam suatu periode dimana konsekuensi modernitas semakin radikal dan teruniversalkan dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.” Apa maksudnya?

Saya harus akui bahwa saya tak tuntas membaca buku Giddens. Pertama, bahasanya terlalu “berat” buat awam seperti saya. Kedua, saya tak pernah tahu apa pentingnya membaca buku seputar modernitas dan konsekuensinya. Apa gunanya mengidentifikasi jaman sebagai modern dan pascamodern? Kalau bukan karena tugas kuliah, saya tentu tak akan menyentuh pembahasan ini dalam waktu dekat.

Membahas modernitas terasa hampir mustahil bagi saya. Hingga kini saya masih tak punya imajinasi jelas tentang sosok modernitas. Apa itu modernitas? Bagaimana ciri-cirinya? Giddens mengatakan bahwa sebagai kajian awal, saya cukup menganggap modernitas sebagai sesuatu yang mengacu pada bentuk kehidupan sosial atau organisasi yang muncul di Eropa sekitar abad ke-17 dan sesudahnya, dan yang pada gilirannya menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Sudah cukup jelaskah?

Bagi Anda mungkin sudah. Namun bagi saya belum. Pertama, saya tidak pernah tinggal di Eropa. Kedua, saya baru mulai hidup pada abad ke-20. Saya tidak pernah mengalami bentuk kehidupan sosial di Eropa yang dimulai abad ke-17, dan saya menolak berbagai rujukan literatur sejarah tentangnya karena tak memuat relevansi esensial dengan hidup saya. Maka yang jelas bagi saya kini hanyalah fakta bahwa saya tidak punya cukup otoritas epistemik untuk membahas modernitas berdasarkan rumusan Giddens.

Sepanjang pengalaman saya sendiri, saya kerap mendengar istilah “modern” dilekatkan pada hal-hal yang cenderung punya kecocokan tertentu dengan budaya dan selera Barat. Ini mungkin agak mirip dengan definisi yang ditawarkan Giddens, kecuali pada batasan waktunya. Informasi tentang dunia Barat hari ini ada banyak dan dapat kita akses secara luas lewat teknologi internet, maupun pergaulan internasional, sehingga kita lebih mungkin untuk membangun imajinasi yang sahih dan relevan, ketimbang harus mereka-reka realitas sosial Eropa abad ke-17 dan sesudahnya. Kendati demikian, tetap tak mudah menceploskan “yang Barat” ke dalam senarai kata sifat untuk mengidentifikasi ciri-cirinya.

Lewat narasi sejarah, kita diminta untuk percaya bahwa Barat pernah mendominasi dunia dengan praktik imperialisme dan kolonialismenya. Maka hari ini kita akan mudah temukan anggapan-anggapan awam bahwa apa yang Barat itu pasti lebih baik, lebih benar, dan lebih unggul daripada apa yang Timur. Konsekuensinya, modernitas sebagai salah satu “penemuan kebudayaan” Barat pun dianggap sebagai baik dan benar. Sadar atau tidak, modernisasi digalakkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Salah satu bukti paling jelas bisa dibaca lewat cara kita berpakaian. Di Jawa, orang sudah jarang memakai pakaian adat jarik, blangkon, dan sebagainya. Orang Jawa hari ini lebih akrab dengan jins, pantalon, dan kaos. Pemakai jins dianggap lebih modern ketimbang pemakai jarik. Benarkah demikian?

Terus terang saya tidak tahu. Yang saya tahu, memakai jins itu jauh lebih nyaman ketimbang berjarik ria. Nyaman dipakai karena lebih bebas. Nyaman dipandang karena tidak memuat motif yang terlalu rumit. Saya sebagai orang keturunan Jawa lebih suka dengan busana Barat ketimbang Jawa sendiri. Pertimbangannya, selain kenyamanan, juga soal kelaziman. Ada juga soal keterjangkauan harga. Jadi, selain nyaman, jins juga sudah lazim dipakai oleh orang-orang. Kalau saya mau nyleneh dengan berjarik ke kampus, buat apa? Lagipula, karena popularitasnya, jins sudah diproduksi massal sehingga harganya juga murah.

Nyaman, lazim, harga terjangkau. Saya kira tiga hal inilah yang jadi pertimbangan orang ketika berpakaian. Dan setiap orang mungkin punya penentuan sendiri-sendiri terhadap tiga variabel tersebut. Maka saya agak geli ketika ada orang-orang tertentu yang memaksakan kehendak berpakaian atas nama modernitas.

Pernah suatu kali di salah satu milis komunitas jurnalisme muncul percakapan seputar RUU Antipornografi dan Pornoaksi — kini telah disahkan menjadi UU Pornografi. Yang dibicarakan waktu itu, bagaimana nasib rakyat Papua yang berpakaian adat jika RUU tersebut benar-benar disahkan dan diterapkan? Apakah mereka bisa dipidana hanya karena busana mereka tidak menutupi “aurat” mereka?

Ada jawaban menarik dari salah satu wartawan senior di milis itu. Wartawan ini seorang perempuan, dan ia juga seorang penganut Islam. Ia bilang bahwa rakyat Papua tidak bisa dibiarkan berpakaian “primitif” di jaman yang sudah modern. Mereka (rakyat Papua) sudah saatnya berbusana secara modern pula. Dan busana modern, menurut wartawan itu, tidak “mengumbar aurat”. Kalau demikian, lantas apa sebenarnya ukuran “modern” di sini? Ketertutupan busana? Makin tertutup makin modern, begitu?

Kalau saya, terserah orang Papua mau berbusana seperti apa. Yang penting nyaman, lazim, dan terjangkau untuk konteks realitas sosial yang mereka hidupi. Bagi saya modernitas tidak penting. Ia terlalu rumit, bahkan mungkin absurd, untuk dimasukkan ke dalam percakapan intelektual yang cenderung linear dan spekulatif. Karena itu, jika masih juga ditanya soal status manusia modern, saya cuma akan jawab: it’s complicated.