Surat Cinta No. 112

Gunung Kelud meletus, menyemburkan tagar #PrayForKelud ke puncak trending topic Twitter. Masih ada saja orang mengambil bencana sebagai bahan bercanda. Masih ada juga orang mengingatkan orang lain agar tidak bercanda.

Keduanya lucu. Namun yang paling membuatku tertawa justru bukan mereka yang melucu, tetapi mereka yang mewanti-wanti orang lain agar tidak melucu.

Dalam sebuah percakapan, mereka mempertanyakan kewarasan orang yang melucu di tengah bencana. Seolah-olah mereka lebih waras dari saudaranya. Padahal tidak ada yang lebih gila dari orang yang menyangka dirinya baik-baik saja.

Dan segera, setelah mewanti-wanti orang lain agar tidak melucu di tengah bencana, mereka juga mewanti-wanti agar orang tidak membicarakan hubungan Valentine dengan bencana. Setelah itu mereka membicarakan makanan, memajang foto sate ayam lengkap dengan lontongnya, lengkap dengan coklat batangan nikmat dari rekan kelaminnya. Lalu muncul foto sepatu, baju, tas, dan barang idaman lain sebagainya. Bagiku semua tampak jelas: inilah bencana. Bencana oh bencana.

Kenapa orang-orang begitu tanggap bencana jika ada gunung meletus, jika ada banjir, jika ada tanah longsor? Kenapa tidak begitu tanggap bencana jika kepalanya sendiri bocor? Sinabung tidak meletus dan serta merta disebut bencana. Perlu waktu beberapa lama hingga pemerintah menetapkannya sebagai bencana, dalam hal ini bencana nasional.

Jelas, bencana bukan sesuatu yang ada begitu saja. Bencana adalah hasil ketetapan. Mau pemerintah atau mbahmu yang menetapkan, hasilnya sama-sama ketetapan. Bencana lokal. Bencana nasional. Bencana alam. Bencana kemanusiaan. Semuanya adalah label. Cap kecap. Dan beda mulut tentu beda kecapnya, kecuali sudah melalui proses standarisasi terkini yang melumpuhkan otak.

Hasil proses ini adalah jutaan orang yang berkicau seragam bahwa letusan Kelud adalah bencana hingga menyemburkan tagar #PrayForKelud ke puncak trending topic Twitter. Lalu mereka mewanti-wanti orang yang berusaha melucu di tengah bencana maupun yang membicarakan hubungan Valentine dengan bencana. Setelah itu mereka akan kembali membicarakan makanan, memajang foto sate ayam lengkap dengan lontongnya, lengkap dengan coklat batangan nikmat dari rekan kelaminnya. Pada malam hari mereka akan melahap coklat itu berdua karena ini momen Valentine dan satu-satunya erupsi yang mungkin terjadi adalah lahar panas putih kental yang lebih dikenal sebagai mani (bencana jika terlambat dicabut). Tidak ada bencana lain karena mereka sudah menyemburkannya di Twitter tadi, hingga puncak trending topic pula! Kurang prihatin apa mereka?

Tentu tidak semua keprihatinan berhenti di situ. Akan ada beberapa (mungkin banyak) orang yang tergerak untuk mengadakan penggalangan bantuan, mengunjungi lokasi pengungsian dan sebagainya. Malaikat juga tahu.

Yang malaikat tidak tahu adalah letusan Kelud sesungguhnya bukan bencana. Bencana yang sesungguhnya hadir di depan mata setiap hari dan orang-orang hanya berjalan melewatinya. Ia muncul di televisi, koran, Twitter, dan orang-orang hanya tertawa, menjadikannya bahan lawakan tanpa prihatin setitikpun! Lalu kenapa sekarang orang bercanda diwanti-wanti segala?

Andai benar letusan Kelud dapat membuat orang-orang lebih tanggap bencana, kuharap kita punya gunung berapi di setiap rumah. Agar yang selamat cuma gelandangan.