Untuk para staf Scientiarum yang terkasih,

Aku menulis surat ini siang tadi sebagai tambatan rapat Jumat, 17 Oktober 2008. Aku sudah sampai pada taraf jemu untuk mengulang-ulang apa yang sudah dibicarakan para rapat itu.

Misi Scientiarum saat ini hanya satu: “Menggali dan mewartakan pengetahuan seluas mungkin dengan prinsip-prinsip jurnalisme yang benar.” Sebenarnya, pada pembahasan rancangan statuta Scientiarum bersama Sutarno, rektor kedua UKSW, muncul misi-misi lain juga. Namun, aku lihat, pada misi utama ini saja Scientiarum belum bisa optimal. Maka, menurut hematku, lebih baik Scientiarum fokus pada misi utama dulu.

Mengapa penggalian pengetahuan itu penting? Ada dua alasan, setidaknya. Ada yang metafisikal dan ada yang fisikal (atau fungsional).

Kalau Anda adalah orang Kristen, atau orang yang mengaku Kristen, dan percaya pada “kebenaran” Kitab Suci, maka ayat yang mestinya jadi pegangan Anda adalah Amsal 1:7a. “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.

Bagaimana “takut akan Tuhan” bisa menghasilkan pengetahuan?

Ketika masih SMA, aku pernah baca satu ayat dari Pengkhotbah 1:13. “And I have given my heart to seek and to search out by wisdom concerning all that hath been done under the heavens. It is a sad travail God hath given to the sons of man to be humbled by it.” Aku sengaja tulis ayat ini berdasarkan versi Inggris dari Young’s Literal Translation. Aku menganggap, versi Terjemahan Baru dari Lembaga Alkitab Indonesia banyak melencengnya. Dalam pemahamanku, berdasarkan ayat ini, Tuhan telah menugaskan manusia menyelidiki segala sesuatu yang ada di bawah kolong langit dengan hikmatnya masing-masing, untuk melelahkan diri.

Jadi, kalau Anda “takut akan Tuhan”, mestinya Anda juga mematuhi penugasan-Nya untuk menyelidiki segala sesuatu, mengeksplorasi segala sesuatu yang ada di kolong langit dengan hikmat Anda, menambah pengetahuan, untuk melelahkan diri. Inilah alasan metafisikal untuk penggalian pengetahuan.

“Sebetulnya nggak perlu ‘takut akan Tuhan’ untuk bisa dapet pengetahuan,” ceplos Katarinus “Dobleh” Andikaputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang sering nongkrong di kantor Scientiarum. Kata Dobleh, pengetahuan itu seharusnya bermula dari keingintahuan, pertanyaan-pertanyaan. “Karena dari bertanya, kita dapat jawaban. Akhirnya jadi tahu kan?” jelas Dobleh.

Goenawan Mohamad, mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, menyatakan hal yang sama. “Jurnalisme tidak bermula dan tidak berakhir dengan berita. Sikap ingin tahu adalah awalnya dan dasarnya, seperti sebuah batu pertama yang berlanjut menjadi fondasi sebuah lorong. Setelah itu jurnalisme menempuhnya, dalam keadaan ruwet dan licin, yang membutuhkan bukan saja keterampilan dan kecerdikan, melainkan juga kesediaan dan kemampuan untuk menjadi polisi lalu lintas, dan kemudian jadi jaksa dan hakim terhadap diri sendiri, yang awas terhadap pelanggaran,” tulis Goen dalam pengantar buku Sembilan Elemen Jurnalisme.

Setiap orang pasti punya rasa ingin tahu yang harus dipuaskan. Ingat, setiap orang! Aku berpikir, maka aku ada. Begitu kan kata filsuf Rene Descartes? Pragmatisme inilah yang akhirnya jadi alasan fungsional mengapa penggalian pengetahuan penting dilakukan.

Lalu sekarang, bagaimana memandang kerja-kerja kewartawanan dalam konteks “menggali dan mewartakan pengetahuan”?

Kris Herawan Timotius, rektor keenam kita, pernah menyatakan bahwa ada empat elemen pada ilmu pengetahuan. Ia harus berupa kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Ia harus bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis. Kebenarannya harus bisa diuji orang lain secara independen. Terakhir, ia harus punya objek yang dipelajari. “Khusus yang nomer empat itu masih bisa diperdebatkan,” imbuh Kris.

Coba masukkan keempat elemen tadi dalam, katakanlah, sebuah laporan jurnalistik. Bukankah laporan jurnalistik semestinya merupakan kumpulan pengetahuan — pengetahuan sebagai semua hal yang diketahui — yang tersusun secara sistematis? Yang bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis? Yang kebenarannya bisa diuji orang lain secara independen? Dan yang menyasar objek tertentu dalam liputannya? Maka kerja jurnalistik sebenarnya sama saja dengan kerja ilmiah.

Marthen Luther nDoen, dosen Fakultas Ekonomi lulusan Cornell University, pernah bilang, ada tiga profesi yang mirip-mirip: peneliti, wartawan, dan seniman. Peneliti membuat tulisan dari suatu kajian yang mendalam. Wartawan melaporkan peristiwa juga melalui pengamatan, wawancara, seperti yang dilakukan peneliti. “Sedang seniman yang saya maksud adalah sastrawan yang menggunakan media bahasa tulisan berkomunikasi dengan pembacanya. Saya pernah menjadi wartawan di majalah Eksekutif dua tahun dan keluar kerja sebagai pengajar. Saya keluar karena mau lakukan kajian yang mendalam dan itu tidak mungkin saya dapatkan sebagai wartawan. Tapi dengan kemampuan menulis sebagai wartawan mengantarkan saya menyelesaikan disertasi saya dengan mudah,” tulis Marthen dalam surat elektronik ketika aku tanya riwayat kewartawanannya.

Aku pribadi sependapat dengan Marthen, tapi ada konteks di balik pernyataannya yang harus dipahami juga. Di Indonesia, memang jarang ada wartawan yang bisa (atau biasa) menulis kajian mendalam. Jumlah mereka, jika dibandingkan dengan wartawan yang hanya menulis reportase pendek-pendek, sangat sedikit. Tapi di belahan dunia yang lain, Amerika misalnya, jumlah wartawan yang menulis kajian mendalam relatif lebih banyak.

Kolom-kolom analisis suratkabar di sana tak diisi para profesor kacangan yang tak biasa menulis. Kolom-kolom itu adalah jatah wartawan-wartawan senior yang sudah banyak makan asam garam reportase dan dianggap bijak. Analisis mereka punya clarity! Mereka itu ya wartawan, ya ilmuwan. Mereka punya ilmu pengetahuan untuk diwartakan. Pengetahuan itu sendiri mereka dapat ketika melakukan reportase. Mereka turun langsung ke lapangan, wawancara orang, juga baca buku.

Supaya bisa melakukan reportase dengan benar, kita butuh panduan berupa “prinsip-prinsip jurnalisme yang benar”. Setidaknya ada sembilan elemen jurnalisme yang aku anggap benar sekarang. Kewajiban jurnalisme ada pada kebenaran. Loyalitas jurnalisme ada pada warga. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Wartawan harus independen. Jurnalisme harus memantau kekuasaan. Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik dan kompromi. Laporan jurnalistik harus menarik dan relevan. Laporan jurnalistik harus komprehensif dan proporsional. Wartawan harus diperbolehkan mengikuti hati nurani. Kesembilan elemen ini dibahas secara panjang lebar dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme. Scientiarum punya satu bukunya. Silakan dibaca.

Sebenarnya, sembilan elemen ini telah ditambah satu lagi. Jadi ada elemen kesepuluh. Aku belum baca bukunya. Tapi, berdasarkan resensi yang pernah ditulis wartawan senior Farid Gaban, elemen kesepuluh adalah: “Citizens, too, have rights and responsibilities when it comes to the news.

“Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan,” tulis Farid. Ini artinya, wartawan bukan lagi satu-satunya orang yang berhak menuliskan kebenaran. Para warga — kita menyebutnya sebagai citizen reporter — juga punya hak sama untuk menulis berita, asal masih dalam koridor prinsip-prinsip jurnalisme yang berlaku.

Aku harap penjelasan singkat ini bisa membantu kalian memahami misi utama Scientiarum.

Sekarang soal struktur organ dan pembagian tugas di Scientiarum sendiri. Secara terus terang sudah aku katakan pada rapat Jumat lalu, aku keberatan kalau harus menjalankan multitasking sebagai pemimpin redaksi, redaktur penyunting, reporter, dan webmaster sekaligus. Setengah mati rasanya aku beberapa bulan ini kalian tinggal sendiri. Jangan begitulah.

Aku juga merasa, selama ini fungsi divisi bisnis yang kita bentuk beberapa bulan lalu hampir nihil. Aku sendiri tak mungkin memerintah Nando, manajer bisnis kita, untuk bekerja. Aku juga tak mau ikut campur urusan divisi itu. Kerja jurnalisme saja sudah cukup berat. Lebih baik aku fokus ke sini dulu.

Dengan alasan itulah aku kemarin mengusulkan perbaikan struktur. Struktur yang baru tetap memuat dua divisi: bisnis dan redaksi. Redaksi dipimpin seorang pemimpin redaksi. Bisnis dipimpin seorang manajer bisnis. Dan dua pemimpin ini berada dalam naungan satu pemimpin umum. Pemimpin umum dipilih saat rapat anggota Scientiarum secara keseluruhan. Meski hanya beberapa orang yang hadir, rapat kemarin memilih Mas Bams kan untuk posisi ini?

Pemimpin umum tugasnya menengahi divisi bisnis dan redaksi. Dia juga wajib menjamin kelancaran kerja dua divisi ini. Dia boleh mengintervensi dan mengomando divisi bisnis, tapi tidak dengan redaksi. Kebijakan redaksi adalah murni redaksi. Ini untuk independensi. Jika divisi bisnis melakukan kesalahan, pemimpin umum boleh menjatuhkan hukuman. Tapi jika ada redaktur, atau bahkan pemimpin redaksi, melakukan kesalahan, paling banter pemimpin umum hanya memberi teguran. Penjatuhan sanksi untuk redaksi hanya bisa dilakukan oleh rapat divisi redaksi.

Pemimpin umum adalah pemimpin organisasi Scientiarum secara keseluruhan. Dia punya hak dan kewajiban mewakili Scientiarum menghadapi pihak luar, menghadiri undangan-undangan, menghadapi birokrasi kampus, dan semua yang terkait dengan organisasi Scientiarum.

Aku tak akan menyinggung tugas-tugas divisi bisnis secara detail, karena tak punya kompetensi di bidang itu. Namun, secara garis besar dan menurutku, divisi bisnis itu tugasnya mengelola semua aset Scientiarum. Kata “mengelola” itu bisa berarti menambah atau mengurangi. Kemajuan Scientiarum secara finansial sebagian besar ditentukan oleh kinerja divisi ini. Sebaiknya, penunjukkan orang untuk posisi manajer bisnis dilakukan oleh pemimpin umum.

Pemimpin redaksi adalah pemimpin divisi redaksi Scientiarum. Dia punya hak dan kewajiban mewakili redaksi Scientiarum menghadapi pihak luar redaksi, menghadiri undangan-undangan redaksi, dan semua yang terkait dengan redaksi. Tugas pemimpin redaksi adalah memimpin rapat mingguan redaksi berkenaan dengan kebijakan-kebijakan peliputan selama seminggu. Dia dipilih oleh rapat redaksi, untuk kemudian diangkat oleh pemimpin umum.

Untuk urusan kaderisasi dan pembinaan anggota, pemimpin redaksi dibantu oleh redaktur senior yang ditunjuknya secara prerogatif. Namun biasanya, sebagai kriteria umum saja, redaktur senior adalah wartawan yang sudah dituakan dan berpengalaman, hingga bisa membimbing para wartawan muda. Redaktur senior, sebagaimana aku lihat di majalah Tempo, kerjanya bikin kelas evaluasi publikasi (mingguan) sebagai forum kritik-otokritik redaksi. Redaktur senior kita sekarang adalah Febri.

Untuk pelaksanaan harian, kewenangan ada di tangan redaktur pelaksana. Redaktur ini dipilih dan bertanggungjawab kepada pemimpin redaksi. Kerjanya, sebagian besar, adalah urusan manajemen peliputan. Dia membawahi redaktur tulis, foto, dan web, juga reporter tulis dan foto. Dialah yang menentukan, siapa meliput apa dan kapan tenggatnya. Aku sudah minta Ferdi untuk jadi redaktur pelaksana dan dia setuju.

Aku membagi publikasi Scientiarum dalam dua bentuk: tulisan dan foto. Menulis berarti “melukis” dengan kata-kata. Sejak awal, Scientiarum sudah menggunakan bentuk publikasi ini. Sedangkan foto harus bisa “bercerita” kepada pembaca. Mulai sekarang, kita harus kembangkan bentuk publikasi ini karena telah menyediakan kolom berita foto pada Scientiarum.com. Bentuk ini juga sebagai variasi terhadap tulisan. Kalau hanya tulisan, pembaca bisa bosan. Demikian juga sebaliknya. James, mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2006, adalah redaktur foto kita yang baru.

Reporter, jika tak mendapat penugasan dari redaktur pelaksana, dia harus berinisiatif sendiri untuk melakukan reportase. Reporter punya kewenangan-kewenangan teknis seperti penentuan narasumber, pengambilan angle berita, dan gaya menulis hasil reportase (untuk reporter tulis).

Semua hasil reportase harus disunting redaktur untuk disempurnakan. Berita foto disunting redaktur foto. Berita dalam bentuk tulisan disunting redaktur tulis. Redaktur tulis bertanggungjawab menyunting kolom berita, opini, sosok, sastra, resensi, cerita, dan surat pembaca.

Jika telah selesai disunting, setiap materi yang siap dipublikasi diserahkan pada redaktur web untuk dipublikasi. Namun, sebelum melakukan publikasi, redaktur web wajib memindai ulang hasil penyuntingan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan teknis seperti penggunaan tanda baca dan penulisan ejaan. Setelah itu baru suatu materi layak dipublikasi berdasarkan format yang dipakai Scientiarum. Sejak dua hari lalu, Gunawan dari Fakultas Teknologi Informasi sudah aktif sebagai redaktur web kita.

Aku harap penjelasan ini cukup jelas untuk bayangan struktur dan mekanisme kerja di Scientiarum. Tentu perbaikan masih diperlukan. Mari kita perbaiki bersama.

Yang kelupaan dari surat ini adalah penjelasan soal ombudsman. Maklum, nulisnya sambil kesusu. Aku akan tulis satu surat tersendiri soal ombudsman ini nanti.

“Sebetulnya nggak perlu ‘takut akan Tuhan’ untuk bisa dapet pengetahuan,” ceplos Katarinus “Dobleh” Andikaputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi yang sering nongkrong di kantor Scientiarum.

Amsal 1:7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan..

jangan lupa TUHAN-nya huruf besar semua, itu pengganti YAHWEH (lihat Kamus Alkitab bagian belakang)

sehingga di Kitab Suci -ILT tertulis “Takut akan YAHWEH adalah permulaan pengetahuan”

takut dalam arti apa?
dalam Amsal 1:7, takut-nya bukan ketakutan, tapi takut hormat.

terjemahan lama mungkin lebih jelas:

Amsal 1:7 Untuk memperoleh ilmu sejati, pertama-tama orang harus mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN

terjemahan Jawa juga dapat dijadikan referensi “takut” di sini …
Wulang Bebasan 1:7 Pangabekti marang Gusti iku etuking kawruh.

so.. takut di sini bukan ketakutan, namun hormat.

Untuk yang Pengkotbah 1:13, ini yang terjemahan lama dan terjemahan Jawa

Pengkhotbah 1:13 Maka kutentukan dalam hatiku hendak dengan akalku memeriksa dan menyelidik segala sesuatu yang diperbuat di bawah langit; maka pekerjaan yang sukar ini telah diberikan Tuhan kepada segala anak Adam akan bersyugul dalamnya

Juru Khotbah 1:13 Atiku kenceng arep nliti lan nyinau samubarang sing kelakon ana ing donya. Kuwi nasib kita saka kersané Gusti

“Tuhan” dan “Gusti” di atas adalah gantinya “Allah”

Post a comment