Surga Bebek

Kalau bebek mati, masuk surga apa neraka?

Gara-gara bingung ditanya begitu oleh anaknya yang masih TK, seorang ibu muda mengirim BBM ke saya, bertanya apakah saya punya jawaban yang pas buat pertanyaan anaknya.

Saya sendiri bingung mau jawab apa. Dalam hati saya merasa tidak punya urusan dengan surga-neraka, sehingga ingin menjawab surga-neraka tidak ada. Tapi jawaban seperti itu rasanya cuma akan membuat si anak tambah bingung. Sebab, mamanya terlanjur mengajarkan surga-neraka ada.

Untungnya, saya tahu bahwa si anak seorang penyayang binatang. Maka jawaban “surga bebek” melintas di kepala saya. Meski jawabannya bohong belaka (mana ada surga bebek?) rasanya si anak bisa menerima.

Tapi saya jadi berpikir ulang. Pantaskah kita memberi jawaban bohong kepada anak kecil yang bertanya dengan polos, namun serius?

Bohong itu candu. Setelah kita membohongi anak dengan surga-neraka, kita harus membohonginya lagi dengan surga bebek. Dan kalau si anak bertanya lebih jauh, kita harus mengarang kebohongan lain yang konsisten dengan kebohongan sebelumnya. Perlu sedikit kreativitas karena pertanyaan anak kecil biasanya tidak terduga. Cenderung “out of the box”.

Saya tidak ingin bilang bohong itu dosa, buruk, dan tidak boleh dilakukan. Semua orang sudah tahu. Dan saya sendiri berbohong minimal sekali sehari. Saya cuma berpikir, bagaimana mungkin orang-orang tua menuntut anaknya untuk jujur, kalau mereka sendiri mengajarkan yang sebaliknya? Sedari kecil pula.

Pasti ada yang menolak jika surga-neraka dipakai sebagai contoh kebohongan. Ada. Dan banyak. Cuma, kalau memang surga-neraka betul-betul ada, mungkin tak akan sulit menjelaskannya pada seorang anak. Apalagi sampai meminta jawaban dari seorang ateis, seperti saya.