Andaikata aku punya kemampuan (juga kesempatan) untuk sekolah di Eropa dan diberi tiga pilihan antara Perancis, Belanda, dan Skotlandia, kemungkinan besar aku akan mencoba negeri yang kedua.
Andaikata aku punya kemampuan (juga kesempatan) untuk sekolah di Eropa dan diberi tiga pilihan antara Perancis, Belanda, dan Skotlandia, kemungkinan besar aku akan mencoba negeri yang kedua.
Aku lagi di Tayu, satu daerah di pelosok utara Kabupaten Pati. Sedikit capek karena seharian ini saba bertiga bareng Romy dan Arya. Pagi telah menjelang siang ketika kami berangkat dari rumah Romy menuju Tawangrejo di ujung Semenanjung Muria. Mbah Jumilah, nenek Romy, tinggal di sana. Sejak dari Salatiga kami memang sudah punya niat bakar-bakar ikan di pinggir Laut Jawa. Maka jadilah, usai menjemput Mbah Ju, kami meluncur ke tempat pelelangan ikan di Puncel, membeli satu tongkol gemuk dan beberapa demang konthe segar.
Ketika merapikan arsip surat elektronik beberapa hari lalu, saya membaca ulang semua transkrip korespondensi yang pernah saya lakukan dengan beberapa narasumber semasa saya masih bergabung dengan Scientiarum. Salah satunya adalah soal trimester versus dwimester, yang percakapannya saya lakukan bersama Neil Semuel Rupidara, dosen Fakultas Ekonomi yang kini sedang studi doktoral di Macquarie University, Australia. Percakapan ini sendiri berlangsung sekitar awal Desember 2008. Setelah membacanya ulang, saya merasa harus menyiarkan transkrip ini, karena ia telah menjawab semua keraguan saya terhadap trimester, dan secara efektif telah menunjukkan kelemahan sistem kalender akademik yang dipakai Universitas Kristen Satya Wacana saat ini — separuh trimester (tiga semester dalam satu tahun), separuh lagi dwimester (dua semester dalam satu tahun), tapi berkedok semester ganjil, genap, dan “pengayaan”. Saya harap warga UKSW yang membaca transkrip ini bisa turut melempar pemikiran kritis terhadapnya, agar kita bisa mendapat kajian bermutu soal sistem kalender akademik kita. Selamat membaca!
“Those who control the past, control the future; Those who control the future, control the present; Those who control the present, control the past.”
~ George Orwell
Dari sebuah ruang di Gedung Lembaga Kemahasiswaan, saya mengirim surat elektronik kepada Andreas Harsono, seorang alumni Fakultas Teknik Jurusan Elektro, angkatan 1984. Andreas pernah jadi redaktur Imbas, sebuah majalah mahasiswa di FTJE. “Sebetulnya saya ‘kuliah’ di Imbas, bukan di Elektro,” katanya pada saya, ketika kami bertemu di Kampoeng Percik, Maret 2008.
“Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.”
~ Wahyu 14:1 versi Terjemahan Baru
Mars bisa disebut sebagai “lagu kebangsaan” sebuah kelompok. Satya Wacana, sebagai “sebuah kelompok akademis”, punya Mars Satya Wacana, yang sering dinyanyikan saat momen-momen “penting” macam wisuda, penerimaan mahasiswa baru, upacara dies natalis, dan sebagainya.