Ada setidaknya tiga kemungkinan yang saya dapat ketika mencoba mendudukkan agama dan negara dalam wilayah konseptual abstrak. Yang pertama, agama di atas negara; kedua, agama di bawah negara; dan yang ketiga, agama sejajar dengan negara.
Ada setidaknya tiga kemungkinan yang saya dapat ketika mencoba mendudukkan agama dan negara dalam wilayah konseptual abstrak. Yang pertama, agama di atas negara; kedua, agama di bawah negara; dan yang ketiga, agama sejajar dengan negara.
Sedikit sekali yang berhasil saya ketahui tentang modernitas. Secara sederhana, biasanya orang akan mempertentangkan yang modern dengan yang tradisional — yang dianggap kuno dan terbelakang. Orang juga biasa memisah jaman menjadi modern dan pascamodern. Anthony Giddens lewat buku The Consequences of Modernity mengatakan: “Alih-alih memasuki periode pascamodernitas, kita bergerak ke dalam suatu periode dimana konsekuensi modernitas semakin radikal dan teruniversalkan dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.” Apa maksudnya?
Malam itu bau asin menyambut kami dengan semerbak. Angin menyapu wajah yang lelah, sementara gerbang itu mulai tampak. Dengan huruf kapital, padanya besar-besar terterak: REMBANG BANGKIT. Adakah Rembang pernah — atau tengah — tergeletak?
Mungkin seseorang punya jawabnya buat kami. Atau mungkin data-data ekonomi. Tiga tahun yang lalu, dua dosen sekolah tinggi ilmu ekonomi di kabupaten ini menulis di koran: sejak tahun 2005 Rembang adalah satu dari tiga kabupaten “tertinggal” di Jawa Tengah, selain Banjarnegara dan Wonogiri. Dua dosen itu mencatat ketergantungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Rembang terhadap sokongan dana Pemerintah Pusat, karena pendapatan asli daerah (PAD) yang tak mumpuni. Sebuah abstrak skripsi tahun 2009 yang pernah saya temui mengafirmasi catatan ini.
Belakangan ini aku sedikit “resah” melihat kelakuan beberapa mahasiswa Satya, yang dengan seenak jidatnya membenarkan (atau menyalahkan) sesuatu atas dasar teori-teori (tentang) kebenaran, tanpa sedikitpun menguji kebenaran teori itu sendiri.
Ini ibarat menudingkan (dengan pasti) sebuah tuduhan mencuri kepada seorang anak, dan langsung menjatuhkan hukuman kepadanya, semata-mata karena ayahnya dulu juga pernah mencuri — buah jatuh tak jauh dari pohon, kata orang. Sekalipun tak pernah ada bukti bahwa anak itu telah mencuri, atau anak itu benar-benar (dalam faktanya) tak pernah mencuri, penuding tuduhan dan penjatuh hukuman itu tetap ngeyel dengan penilaian mereka sendiri.
Salah satu wejangan Pramoedya Ananta Toer yang paling aku ingat — selain “menulis adalah bekerja untuk keabadian” — adalah “semua harus ditulis”. Tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna! Konon begitu kata Pram dalam novel Rumah Kaca-nya.