Agak sukar menjelaskan filem ini, dan rasanya aku malah akan membuatnya kabur lewat ulasan ini. Jangan tanya kenapa, ini mungkin perasaanku saja. Aku sedang tidak yakin pada segalanya, tapi perasaanku bukan segalanya — filem ini juga.
Agak sukar menjelaskan filem ini, dan rasanya aku malah akan membuatnya kabur lewat ulasan ini. Jangan tanya kenapa, ini mungkin perasaanku saja. Aku sedang tidak yakin pada segalanya, tapi perasaanku bukan segalanya — filem ini juga.
Alkisah hiduplah seorang mahasiswa bernama Yodie Hardiyan. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2006, sama dengan saya. Sekitar sebulan yang lalu, Yodie membawakan makalah diskusi bulanan Kelompok Diskusi In(ter)disipliner. Dia bicara panjang lebar soal Kredit Keaktifan Mahasiswa — di FE itu disebut “point card” — hal yang sepertinya sudah jadi keprihatinannya sejak lama.
Kini doktor psikologi itu menenteng buku-bukunya sambil melangkah dengan wajah murung, meninggalkan kompleks kampusnya melalui pintu belakang yang sempit. Cuaca hangat sore itu tak juga membuatnya terhibur sepanjang perjalanan pulang. Dia tenggelam begitu dalam dalam parit pikirannya yang dangkal dan sempit, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusiknya sejak beberapa tahun terakhir.
Salah satu wejangan Pramoedya Ananta Toer yang paling aku ingat — selain “menulis adalah bekerja untuk keabadian” — adalah “semua harus ditulis”. Tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna! Konon begitu kata Pram dalam novel Rumah Kaca-nya.
Ini hari keempatku di Surabaya — sebuah rekor baru, karena biasanya aku cuma sehari-dua (atau malah kurang) di sini. Setelah mendapat akses internet di Jess Net, sebuah warung internet di Jalan Urip Sumoharjo, dekat Pasar Keputran yang “legendaris” itu, aku putuskan menulisi blog ini sambil menunggu bus jurusan Surabaya-Yogyakarta, yang akan berangkat tengah malam nanti. Aku hendak menumpang sampai Solo, lalu mencari bus ke arah Salatiga.