Tag Archive for 'fiksi'

Ateis

Aku seorang ateis. Ada yang bilang, ateisme dan agama adalah kebodohan yang sama dengan nama berbeda. Sebabnya karena mereka sama-sama tak berdasar dan berbukti—aku setuju. Aku memang bodoh karena mau percaya pada hal yang tak berdasar dan berbukti. Dan sebodoh-bodohnya aku, masih lebih bodoh orang yang mau baca tulisanku setelah tahu aku ini bodoh. Haha!

Sebagai ateis, aku bukan tidak percaya Tuhan. Aku cuma percaya Tuhan tidak ada. Tuhan adalah omong kosong. Dan karena cuma omong kosong, orang bisa omong apa saja soal Tuhan sementara Tuhan sendiri cuma diam. Yang cerewet adalah muka-muka agama yang sejak purbakala selalu khotbah bahwa Tuhan adalah ini dan itu, begini dan begitu.

Sering aku dengar orang bertanya, “Tuhan, agamamu apa?”

Dan Tuhan diam.

Go on »

Anggur Satu Malam

Kabar bahwa sahabatnya lulus hari ini tidak membuat hatinya senang. Ia sedih karena sejumlah alasan. Pertama mungkin karena sudah sifat manusia untuk lebih gampang menerima kegagalan orang lain daripada kesuksesannya. Orang selalu punya kecenderungan untuk bersaing, entah kenapa. Dan saingan mereka, biasanya, justru didatangkan dari lingkaran terdekat: keluarga, tetangga, teman. Dalam sejumlah hal tampak bahwa saudara bersaing dengan saudara, orangtua dengan orangtua, orangtua dengan anak, tetangga dengan tetangga, dan teman dengan teman; sampai muncul istilah “teman makan teman” untuk menunjuk praktik persaingan tak sehat. Kemenangan diperjuangkan seolah-olah dari persaingan itulah orang mendapatkan eksistensinya. Anak pintar selalu mendapat tempat lebih baik daripada anak bodoh. Dan sejak kepintaran mereka selalu diukur dengan angka, hampir setiap anak berlomba-lomba mendapatkan angka tertinggi, meskipun dengan cara-cara terendah. Dan hampir semua anak begitu. Dikatakan hampir semua karena nyatanya masih ada sejumpil anak yang, entah bagaimana, tahu bahwa kepintaran tidak bisa cuma diukur angka-angka. Apakah sebetulnya kepintaran? Dan bisakah ia diukur dengan angka? Kalau bisa, seberapa bisa? Seberapa tepat angka-angka itu menunjuk kepintaran yang tak berwujud?

Go on »

Berspikologi

Kini doktor psikologi itu menenteng buku-bukunya sambil melangkah dengan wajah murung, meninggalkan kompleks kampusnya melalui pintu belakang yang sempit. Cuaca hangat sore itu tak juga membuatnya terhibur sepanjang perjalanan pulang. Dia tenggelam begitu dalam dalam parit pikirannya yang dangkal dan sempit, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusiknya sejak beberapa tahun terakhir.

Go on »