Pertama, saya setuju bahwa sejak pendidikan dimassalkan dan diorientasikan pada kebutuhan pembangunan, sejak saat itulah pendidikan menjadi tidak manusiawi. Pertanyaan gampangnya, manusia untuk pembangunan atau pembangunan untuk manusia?
Pertama, saya setuju bahwa sejak pendidikan dimassalkan dan diorientasikan pada kebutuhan pembangunan, sejak saat itulah pendidikan menjadi tidak manusiawi. Pertanyaan gampangnya, manusia untuk pembangunan atau pembangunan untuk manusia?
Konon, dulu sekali ada benua bernama Atlantis. Luasnya kira-kira lebih besar dari Asia Kecil dan Libia digabung jadi satu. Pada Zaman Es puluhan ribu tahun lalu, benua ini adalah surga tropis dengan banyak gunung berapi. Daratannya subur dan makmur.
Karena kondisi alamnya mendukung, Atlantis jadi pusat peradaban dunia waktu itu. Budaya bercocok tanam, metalurgi, dan kota-kota pertama di dunia, katanya, muncul pertama kali di Atlantis.
Sudah empat kali kutonton filem ini. Lama-lama bosan juga meski bagus. Kemarin kutanya Yodie, dia sudah nonton lima kali dan masih mau nonton lagi. Aku tersenyum waktu dengar dia bilang begitu. Aku ingat dia fans berat Zooey Deschanel. Di resensinya soal filem ini Yodie menyisihkan satu paragraf khusus membahas rekam jejak aktris itu.
“Amin?” tanya film itu. Dan hati masing-masing penonton pun menjawab.
Tampaknya itulah penutup yang adil untuk film seperti Cin(t)a, yang mencoba berbicara tentang cinta dan Tuhan, dua hal yang belum — mungkin tak akan — pernah selesai diperbincangkan. Pada satu titik tertentu dalam persoalan cinta, juga Tuhan, manusia akan menyadari keberadaan realitas yang transenden, yang belum — mungkin juga tak akan — pernah bisa terengkuh masuk sepenuhnya ke dalam alam sadar.
Alkisah hiduplah seorang mahasiswa bernama Yodie Hardiyan. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2006, sama dengan saya. Sekitar sebulan yang lalu, Yodie membawakan makalah diskusi bulanan Kelompok Diskusi In(ter)disipliner. Dia bicara panjang lebar soal Kredit Keaktifan Mahasiswa — di FE itu disebut “point card” — hal yang sepertinya sudah jadi keprihatinannya sejak lama.