Tag Archive for 'Kampoeng Percik'

Tidak Lengkap Tidak Selesai

Sore itu Yodie Hardiyan mendatangi kos saya. Dia (tampak agak bersemangat) menceritakan rencana yang telah dibicarakannya bersama Surya Probo Kusuma, ketua senat mahasiswa fakultas kami, untuk mengadakan pelatihan menulis artikel media massa untuk sivitas akademika Fakultas Ekonomi. Yodie mengajak saya untuk bergabung dalam satuan tugas yang akan segera dibentuk. Saya mau. Khusus untuk kegiatan seperti ini saya mau.

Go on »

Jas Merah Satya Wacana

“Those who control the past, control the future; Those who control the future, control the present; Those who control the present, control the past.”
~ George Orwell

Dari sebuah ruang di Gedung Lembaga Kemahasiswaan, saya mengirim surat elektronik kepada Andreas Harsono, seorang alumni Fakultas Teknik Jurusan Elektro, angkatan 1984. Andreas pernah jadi redaktur Imbas, sebuah majalah mahasiswa di FTJE. “Sebetulnya saya ‘kuliah’ di Imbas, bukan di Elektro,” katanya pada saya, ketika kami bertemu di Kampoeng Percik, Maret 2008.

Go on »

Lagi Senang Tidur Nomaden

Aku senang menumpang tidur di kos teman di jalan Pattimura. Hampir semua mahasiswa yang kos di sana aku kenal. Reno, Binta, Meq, Ivan, Parlin, Boki, dan Kecel. Semuanya kuliah di Fakultas Teknik, kecuali Kecel, yang kuliah di Fakultas Pertanian. Ketujuh orang itu juga aktivis pers mahasiswa di kampus.

Go on »

Meningkatkan Mutu Jurnalisme

andreas harsono jingkrak Meningkatkan Mutu Jurnalisme

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya, The Elements of Journalism, mengatakan bahwa semakin baik mutu jurnalisme, makin tinggi pula mutu masyarakat.

Go on »

Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk

scientiarum imbas harsono Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk

Andreas Harsono. Rambut lurus di unyeng-unyeng kepalanya menantang gravitasi, sedangkan yang di bagian depan tiarap terbelah dua. Ia menyebut dirinya “Hoakiao dari Jember.” Ketika kuliah di Satya Wacana, ia mengambil jurusan teknik elektro. Namun setelah lulus, ia malah jadi wartawan. Ia mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) sebagai tandingan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) di masa Orde Baru. Ia juga ikut memprakarsai Komunitas Utan Kayu bersama Goenawan Mohammad. Dan kiprahnya di bidang jurnalisme pun mendapat Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard — yang disebut para jurnalis sebagai penghargaan jurnalisme bergengsi di Amerika Serikat, nomor dua setelah The Pulitzer Prizes.

Go on »