Kini doktor psikologi itu menenteng buku-bukunya sambil melangkah dengan wajah murung, meninggalkan kompleks kampusnya melalui pintu belakang yang sempit. Cuaca hangat sore itu tak juga membuatnya terhibur sepanjang perjalanan pulang. Dia tenggelam begitu dalam dalam parit pikirannya yang dangkal dan sempit, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusiknya sejak beberapa tahun terakhir.