Tag Archive for 'psikologi'

Merangsang Libido Belajar

Sudah saya katakan bahwa konsep “student-centered learning” itu pemanis bibir belaka. Asli lip service doang. Yang masih berlaku umum di dunia pendidikan kita adalah “teacher-centered learning”. Karena itu tidak usah heran jika ada pakar pendidikan yang omong bahwa mutu dunia pendidikan cuma bisa dibenerin kalau gurunya sudah bener duluan. Sedangkan murid, sekalipun digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan, dalam prakteknya harus terima nasib sebagai pajangan ruang kelas sahaja.

Emang apa yang perlu dibetulkan dari guru Indonesia?

Go on »

Tepi Blogosfer Hari Ini

Sedikit nostalgia. Dulu aku ngeblog untuk cari perhatian orang. Sekarang aku ngeblog untuk memperhatikan diri sendiri.

Yang kumaksud “dulu” adalah saat pertama kali ngeblog di Blogspot pada pertengahan 2006 hingga memulai blog Orangmuda akhir 2007. Waktu itu aku sangat rajin blogwalking dan meninggalkan komentar di blog-blog lain. Aku memasang berbagai plugin sosial supaya blogku semakin interaktif. Aku bergabung dengan komunitas bloger seperti Loenpia.net di Semarang, sampai mendirikan komunitas bloger TuguPahlawan.com di Surabaya bersama Cempluk alias Andi Bagus Ruhendra.

Ngeblog untuk cari perhatian?

Go on »

Mengetuk Pintu Sorga

Yang pertama kali perlu dilakukan adalah menentukan apakah sorga ada. Kalau ada, dimana letaknya? Apakah sorga punya pintu? Dimana letak pintu sorga?

Saya tak tahu apakah sorga ada. Andia, saat Ibu menanyakan dimana letak sorga saya, pada dinding Facebook beberapa hari lalu, saya tak bisa menjawab. Waktu itu saya belum tahu bahwa sorga bisa ada di sudut lingkaran.

Jadi apakah sorga ada? Anggap saja ada.

Go on »

Reign Over Me

Agak sukar menjelaskan filem ini, dan rasanya aku malah akan membuatnya kabur lewat ulasan ini. Jangan tanya kenapa, ini mungkin perasaanku saja. Aku sedang tidak yakin pada segalanya, tapi perasaanku bukan segalanya — filem ini juga.

Go on »

Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko

Pertama, saya memang tak tertarik untuk membuat satu konsep identitas manusia Satya Wacana secara “umum” karena itu akan jadi “bohong-bohongan” saja. Apanya yang “umum”? Bukankah semuanya penafsiran-reflektif pribadi saja? Atau hanya segelintir orang? Catatan-catatan sumber Notohamidjojo pun hanyalah hasil penafsiran pribadi, tapi kemudian dianggap “umum” dan “sah” untuk komunitas Satya Wacana, semata-mata karena dia adalah “leluhur” kita, lebih dulu ada daripada kita. Pembacaan saya seperti itu. CMIIW.

Go on »