Tag Archive for 'psikologi'

Page 2 of 3

Identitas Manusia Satya Wacana

Alkisah hiduplah seorang mahasiswa bernama Yodie Hardiyan. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2006, sama dengan saya. Sekitar sebulan yang lalu, Yodie membawakan makalah diskusi bulanan Kelompok Diskusi In(ter)disipliner. Dia bicara panjang lebar soal Kredit Keaktifan Mahasiswa — di FE itu disebut “point card” — hal yang sepertinya sudah jadi keprihatinannya sejak lama.

Go on »

Berspikologi

Kini doktor psikologi itu menenteng buku-bukunya sambil melangkah dengan wajah murung, meninggalkan kompleks kampusnya melalui pintu belakang yang sempit. Cuaca hangat sore itu tak juga membuatnya terhibur sepanjang perjalanan pulang. Dia tenggelam begitu dalam dalam parit pikirannya yang dangkal dan sempit, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusiknya sejak beberapa tahun terakhir.

Go on »

Aku Tukang Bohong

Salah satu wejangan Pramoedya Ananta Toer yang paling aku ingat — selain “menulis adalah bekerja untuk keabadian” — adalah “semua harus ditulis”. Tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna! Konon begitu kata Pram dalam novel Rumah Kaca-nya.

Go on »

Buah Rekor Surabaya

Ini hari keempatku di Surabaya — sebuah rekor baru, karena biasanya aku cuma sehari-dua (atau malah kurang) di sini. Setelah mendapat akses internet di Jess Net, sebuah warung internet di Jalan Urip Sumoharjo, dekat Pasar Keputran yang “legendaris” itu, aku putuskan menulisi blog ini sambil menunggu bus jurusan Surabaya-Yogyakarta, yang akan berangkat tengah malam nanti. Aku hendak menumpang sampai Solo, lalu mencari bus ke arah Salatiga.

Go on »

Rempati

Aku lagi di Tayu, satu daerah di pelosok utara Kabupaten Pati. Sedikit capek karena seharian ini saba bertiga bareng Romy dan Arya. Pagi telah menjelang siang ketika kami berangkat dari rumah Romy menuju Tawangrejo di ujung Semenanjung Muria. Mbah Jumilah, nenek Romy, tinggal di sana. Sejak dari Salatiga kami memang sudah punya niat bakar-bakar ikan di pinggir Laut Jawa. Maka jadilah, usai menjemput Mbah Ju, kami meluncur ke tempat pelelangan ikan di Puncel, membeli satu tongkol gemuk dan beberapa demang konthe segar.

Go on »