Tag Archive for 'Salatiga'

Page 4 of 9

The Outsider

the outsider The OutsiderKubeli novel itu seminggu yang lalu, dan sejak itu aku tak pernah tahu apa yang dilakukannya padaku. Aku melihatnya sekilas ketika hendak meninggalkan toko buku. Agak kecewa karena buku yang kucari sedang di luar stok, dan mereka tak bisa membuatnya masuk. Buku-buku lain gagal menarik minatku. Pada saat itulah kulihat nama Albert Camus pada novel itu. Segera kusambar dan kubayar. Lalu kubaca, mula-mula dalam keramaian.

Go on »

Yang Berteman

Ada kalanya — mungkin cukup sering — orang lain tak menginginkan lebih dari kita selain apa yang kita punya. “Kepunyaan kita” dan bukannya “kita”; itu bisa berarti harta benda, atau kualitas-kualitas tertentu yang hinggap sementara pada diri kita. “Diri kita” dan bukannya “kita”.

Pada situasi tertentu kita dapat bertanya, “Andai aku tidak memiliki ini dan itu, atau begini dan begitu, apakah mereka, orang lain itu, akan tetap berkawan denganku? Apakah mereka akan tetap menganggapku ada? Sebagai manusia?” Kita dapat bertanya demikian, dan tak jua mendapatkan jawab, dari “mereka”. Oleh sebab itu, kita sendiri boleh mereka-reka jawabannya.

Go on »

Tuhan dan Saya

Tuhan adalah sebuah kata yang mestinya telah hilang dari perbendaharaan, tetapi masih akan saya simpan, setidaknya untuk matakuliah Pendidikan Agama semester ini. Kata seorang teman — dan saya mengamininya — lebih baik bertuhan daripada berkhotbah tentang Tuhan. Namun, apa (atau siapa) itu Tuhan?

Go on »

Fakultas Kebebasan

Ada satu lakon klasik yang belum usai dipentaskan di panggung sandiwara pendidikan kita sampai hari ini: dosen yang susah payah mengajar di depan, sementara mahasiswanya tidak memperhatikan; ada yang tertidur, sebagian merumpi, dan sisanya melamun sendiri. Ujung cerita ini biasanya mudah ditebak: sang dosen meledak, dan suasana kelas jadi tak enak. Proses belajar-mengajar (PBM) rusak.

Go on »

Di Rembang

Malam itu bau asin menyambut kami dengan semerbak. Angin menyapu wajah yang lelah, sementara gerbang itu mulai tampak. Dengan huruf kapital, padanya besar-besar terterak: REMBANG BANGKIT. Adakah Rembang pernah — atau tengah — tergeletak?

Mungkin seseorang punya jawabnya buat kami. Atau mungkin data-data ekonomi. Tiga tahun yang lalu, dua dosen sekolah tinggi ilmu ekonomi di kabupaten ini menulis di koran: sejak tahun 2005 Rembang adalah satu dari tiga kabupaten “tertinggal” di Jawa Tengah, selain Banjarnegara dan Wonogiri. Dua dosen itu mencatat ketergantungan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Rembang terhadap sokongan dana Pemerintah Pusat, karena pendapatan asli daerah (PAD) yang tak mumpuni. Sebuah abstrak skripsi tahun 2009 yang pernah saya temui mengafirmasi catatan ini.

Go on »