Tag Archive for 'Semarang'

Menutup Pekan Kehidupan

Apa yang diajarkan sebuah akhir pekan kepada saya?

Kronologi akhir pekan termutakhir saya adalah sebagai berikut:

Sabtu bangun siang karena malam sebelumnya (hingga pagi) minum anggur sampai bodok, seperti sekarang. Begitu bangun dan cek hape ternyata ada SMS dari Adi Kriting. Isinya ajakan pergi ke Batang. Ke tempat seorang tuan tanah yang terkenal karena mengerahkan puluhan truk petani unjuk rasa ke DPRD Jateng setiap kali panen. Ada apa di sana? Adi menelepon.

Ada kongres petani Batang.

Go on »

Baru Tahun Ini

Malam tahun baru 2010. Aku menghentikan mobil dan menarik tuas rem tangan. Di depan, jalanan Tanah Putih sama sekali jauh dari kelegaan. Di kedua sisi ruas jalan, motor-motor diparkir berjajar. Trotoar ramai dengan orang. Semarang sedang menyongsong sebuah kedatangan.

Go on »

Patiga

Pagi yang indah di Salatiga. Sinar hangat matahari, daun-daun hijau pepohonan, kerikan cenggeret, dan kicauan burung. Udara sejuk dan kabut tipis selalu datang. Ini cuma suasana “standar” untuk pagi di sini, dan kebanyakan orang mungkin mengacuhkannya. Tapi ini pagi pertamaku di sini minggu ini. Aku selalu menikmatinya sehabis pelesir dari luar kota, terutama dari tempat-tempat panas macam Pati dan Rembang (apalagi Surabaya, dan Jakarta).

Go on »

Jas Merah Satya Wacana

“Those who control the past, control the future; Those who control the future, control the present; Those who control the present, control the past.”
~ George Orwell

Dari sebuah ruang di Gedung Lembaga Kemahasiswaan, saya mengirim surat elektronik kepada Andreas Harsono, seorang alumni Fakultas Teknik Jurusan Elektro, angkatan 1984. Andreas pernah jadi redaktur Imbas, sebuah majalah mahasiswa di FTJE. “Sebetulnya saya ‘kuliah’ di Imbas, bukan di Elektro,” katanya pada saya, ketika kami bertemu di Kampoeng Percik, Maret 2008.

Go on »

Glonggongan

Malam ini aku tidur di Scientiarum lagi. Sudah tiga malam berturut-turut aku tidur sini, malas pulang kos karena telah tengah malam. Meski sudah biasa, tapi belakangan aku jadi malas jalan, malas kedinginan. Lagipula kalau malam, Scientiarum sepi. Aku sendirian, hingga bisa menulis tanpa gangguan.

Go on »