Tag Archive for 'sosial'

Siapa Bilang Sekolah Kita Beradab?

Saya paling sebel kalau ada orang bilang pelajar Indonesia belum siap untuk kebebasan. Mitos yang selama ini santer diulang-ulang adalah selesaikan dulu sarjanamu, baru kau bebas melakukan apa saja. Kita suka lupa bahwa setelah jadi sarjana, hampir semua orang sudah tidak berdaya. Jangankan jadi agen perubahan, mengemis untuk jadi buruh kompeni saja ditolak di mana-mana. Hihihi.

Go on »

Plonco Lagi Sampai Mati

Cakep-cakep begini saya pernah jadi ketua OSIS waktu SMA. Jadi saya tahu bahwa yang namanya perploncoan di sekolah itu tidak ada gunanya. Emang apa gunanya senior pasang tampang serem terus bentak-bentak juniornya? Untuk melatih mental? Mental apa? Mental preman? Preman di Solo saja, saya tahu, kalau ngomong sangat halus dan sopan. Sedikit bicara banyak tikam.

Go on »

Aku Cinta Kamu

Terdiri dari tiga kata: aku, cinta, dan kamu.

Berarti untuk sungguh-sungguh mengucapkan kalimat “aku cinta kamu”, yang perlu orang ketahui pertama kali adalah dirinya sendiri: aku. Cinta dan yang dicintai itu urusan nanti.

Jadi siapakah aku?

Go on »

Menutup Pekan Kehidupan

Apa yang diajarkan sebuah akhir pekan kepada saya?

Kronologi akhir pekan termutakhir saya adalah sebagai berikut:

Sabtu bangun siang karena malam sebelumnya (hingga pagi) minum anggur sampai bodok, seperti sekarang. Begitu bangun dan cek hape ternyata ada SMS dari Adi Kriting. Isinya ajakan pergi ke Batang. Ke tempat seorang tuan tanah yang terkenal karena mengerahkan puluhan truk petani unjuk rasa ke DPRD Jateng setiap kali panen. Ada apa di sana? Adi menelepon.

Ada kongres petani Batang.

Go on »

Mengunyah Ilmu, Menelan Pengetahuan

Dulu guru SMA saya sering mengeluh kenapa banyak murid malas belajar. Yang dimaksud belajar di sini adalah mengikuti PBM di kelas, membaca buku paket, dan mengerjakan PR. Padahal kelas kami bagus dengan fasilitas lengkap, buku paket semua terbitan penerbit baik, dan PR yang diberikan rata-rata mudah karena cuma mengulang yang disampaikan saat jam pelajaran. Kenapa kami masih malas?

Go on »