Tag Archive for 'sosial'

Page 2 of 7

Tepi Blogosfer Hari Ini

Sedikit nostalgia. Dulu aku ngeblog untuk cari perhatian orang. Sekarang aku ngeblog untuk memperhatikan diri sendiri.

Yang kumaksud “dulu” adalah saat pertama kali ngeblog di Blogspot pada pertengahan 2006 hingga memulai blog Orangmuda akhir 2007. Waktu itu aku sangat rajin blogwalking dan meninggalkan komentar di blog-blog lain. Aku memasang berbagai plugin sosial supaya blogku semakin interaktif. Aku bergabung dengan komunitas bloger seperti Loenpia.net di Semarang, sampai mendirikan komunitas bloger TuguPahlawan.com di Surabaya bersama Cempluk alias Andi Bagus Ruhendra.

Ngeblog untuk cari perhatian?

Go on »

Sesudah Ultah

gending Sesudah Ultah

Sebelumnya, maafkan saya atas kualitas foto yang kurang prima.

Foto ini diambil beberapa hari lalu, dengan gadget seadanya, saat Gending Bagus Yudas Abi Saskara merayakan ultah pertama. Bocah yang berbaju hitam, itulah Gending. Yang memangku adalah ibunya. Bocah satunya lagi, yang berbaju putih dan digendong papanya, adalah Klething. Klething bukan saudara kandung Gending. Laki-laki dan perempuan yang masing-masing pegang anak itu bukan suami-istri. Saya jelaskan sejak awal biar tidak keliru. Sedangkan bocah tua berkemeja kotak-kotak di sudut kanan gambar, itu figuran saja. Boleh diabaikan.

Go on »

Sejak Kapan Orang Merasa Butuh Pasangan Hidup?

Sejak Hawa diciptakan untuk Adam? Atau sebaliknya?

“Kenapa nanya gitu? Kamu takut nikah?” tanya seorang perempuan, kenalan saya. “Atau kamu takut hidup sendiri?” tanya diri saya sendiri.

Jawab saya: saya takut keduanya.

Go on »

Arief Dalam Hal Asmara

asmara nababan 207x300 Arief Dalam Hal Asmara“Orangnya terus terang, enak diajak omong, nggak main politik, apa adanya,” kenang Arief Budiman tentang Asmara Nababan. Selebihnya tidak banyak. Arief merasa kekaribannya dengan Asmara lebih cenderung intelektual ketimbang personal.

Arief masih ingat pertemuan pertamanya dengan Asmara, sekitar 40 tahun lalu di Balai Budaya. Waktu itu Arief adalah direktur Yayasan Indonesia. Ia mendapat satu ruangan kecil di situ sebagai kantornya. “Balai Budaya itu menjadi tempat diskusi-diskusi. Jadi di samping demo kita diskusi. Diskusi tentang Taman Mini misalnya. Nah, si Asmara sering datang. Dia tahu kita ada pertemuan-pertemuan, ngumpul, datang pribadi maupun datang kelompok. Kelompok kita nggak resmi. Siapa aja yang datang diterima.”

Go on »

Suprafasilitator

Hari ini saya mendapat dokumen yang menjelaskan bentuk kerangka kerja pengembangan masyarakat yang dipakai sebagai dasar kurikulum pengembangan fasilitator di Indonesia. Mau tahu isinya?

Pertama-tama dikatakan bahwa pengembangan fasilitator masyarakat harus fokus pada kebutuhan masyarakat untuk: pertama, dapat menerima perubahan positif; kedua, memahami penerapan acuan yang ditawarkan sebagai norma kebiasaan; ketiga, memungkinkan tertanamnya proses-proses efektif di masyarakat.

Go on »