Tag Archive for 'teologi'

Ateis

Aku seorang ateis. Ada yang bilang, ateisme dan agama adalah kebodohan yang sama dengan nama berbeda. Sebabnya karena mereka sama-sama tak berdasar dan berbukti—aku setuju. Aku memang bodoh karena mau percaya pada hal yang tak berdasar dan berbukti. Dan sebodoh-bodohnya aku, masih lebih bodoh orang yang mau baca tulisanku setelah tahu aku ini bodoh. Haha!

Sebagai ateis, aku bukan tidak percaya Tuhan. Aku cuma percaya Tuhan tidak ada. Tuhan adalah omong kosong. Dan karena cuma omong kosong, orang bisa omong apa saja soal Tuhan sementara Tuhan sendiri cuma diam. Yang cerewet adalah muka-muka agama yang sejak purbakala selalu khotbah bahwa Tuhan adalah ini dan itu, begini dan begitu.

Sering aku dengar orang bertanya, “Tuhan, agamamu apa?”

Dan Tuhan diam.

Go on »

Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko

Pertama, saya memang tak tertarik untuk membuat satu konsep identitas manusia Satya Wacana secara “umum” karena itu akan jadi “bohong-bohongan” saja. Apanya yang “umum”? Bukankah semuanya penafsiran-reflektif pribadi saja? Atau hanya segelintir orang? Catatan-catatan sumber Notohamidjojo pun hanyalah hasil penafsiran pribadi, tapi kemudian dianggap “umum” dan “sah” untuk komunitas Satya Wacana, semata-mata karena dia adalah “leluhur” kita, lebih dulu ada daripada kita. Pembacaan saya seperti itu. CMIIW.

Go on »

Identitas Manusia Satya Wacana

Alkisah hiduplah seorang mahasiswa bernama Yodie Hardiyan. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2006, sama dengan saya. Sekitar sebulan yang lalu, Yodie membawakan makalah diskusi bulanan Kelompok Diskusi In(ter)disipliner. Dia bicara panjang lebar soal Kredit Keaktifan Mahasiswa — di FE itu disebut “point card” — hal yang sepertinya sudah jadi keprihatinannya sejak lama.

Go on »

Aku Tukang Bohong

Salah satu wejangan Pramoedya Ananta Toer yang paling aku ingat — selain “menulis adalah bekerja untuk keabadian” — adalah “semua harus ditulis”. Tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna! Konon begitu kata Pram dalam novel Rumah Kaca-nya.

Go on »

Buah Rekor Surabaya

Ini hari keempatku di Surabaya — sebuah rekor baru, karena biasanya aku cuma sehari-dua (atau malah kurang) di sini. Setelah mendapat akses internet di Jess Net, sebuah warung internet di Jalan Urip Sumoharjo, dekat Pasar Keputran yang “legendaris” itu, aku putuskan menulisi blog ini sambil menunggu bus jurusan Surabaya-Yogyakarta, yang akan berangkat tengah malam nanti. Aku hendak menumpang sampai Solo, lalu mencari bus ke arah Salatiga.

Go on »