Tag Archive for 'Wagiman Danu Rusanto'

Identitas Manusia Satya Wacana

Alkisah hiduplah seorang mahasiswa bernama Yodie Hardiyan. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana angkatan 2006, sama dengan saya. Sekitar sebulan yang lalu, Yodie membawakan makalah diskusi bulanan Kelompok Diskusi In(ter)disipliner. Dia bicara panjang lebar soal Kredit Keaktifan Mahasiswa — di FE itu disebut “point card” — hal yang sepertinya sudah jadi keprihatinannya sejak lama.

Go on »

Mencobai Teori Kebetulan

Belakangan ini aku sedikit “resah” melihat kelakuan beberapa mahasiswa Satya, yang dengan seenak jidatnya membenarkan (atau menyalahkan) sesuatu atas dasar teori-teori (tentang) kebenaran, tanpa sedikitpun menguji kebenaran teori itu sendiri.

Ini ibarat menudingkan (dengan pasti) sebuah tuduhan mencuri kepada seorang anak, dan langsung menjatuhkan hukuman kepadanya, semata-mata karena ayahnya dulu juga pernah mencuri — buah jatuh tak jauh dari pohon, kata orang. Sekalipun tak pernah ada bukti bahwa anak itu telah mencuri, atau anak itu benar-benar (dalam faktanya) tak pernah mencuri, penuding tuduhan dan penjatuh hukuman itu tetap ngeyel dengan penilaian mereka sendiri.

Go on »

Aku Tukang Bohong

Salah satu wejangan Pramoedya Ananta Toer yang paling aku ingat — selain “menulis adalah bekerja untuk keabadian” — adalah “semua harus ditulis”. Tulis, tulis, dan tulis, suatu saat pasti berguna! Konon begitu kata Pram dalam novel Rumah Kaca-nya.

Go on »

Patiga

Pagi yang indah di Salatiga. Sinar hangat matahari, daun-daun hijau pepohonan, kerikan cenggeret, dan kicauan burung. Udara sejuk dan kabut tipis selalu datang. Ini cuma suasana “standar” untuk pagi di sini, dan kebanyakan orang mungkin mengacuhkannya. Tapi ini pagi pertamaku di sini minggu ini. Aku selalu menikmatinya sehabis pelesir dari luar kota, terutama dari tempat-tempat panas macam Pati dan Rembang (apalagi Surabaya, dan Jakarta).

Go on »

Rempati

Aku lagi di Tayu, satu daerah di pelosok utara Kabupaten Pati. Sedikit capek karena seharian ini saba bertiga bareng Romy dan Arya. Pagi telah menjelang siang ketika kami berangkat dari rumah Romy menuju Tawangrejo di ujung Semenanjung Muria. Mbah Jumilah, nenek Romy, tinggal di sana. Sejak dari Salatiga kami memang sudah punya niat bakar-bakar ikan di pinggir Laut Jawa. Maka jadilah, usai menjemput Mbah Ju, kami meluncur ke tempat pelelangan ikan di Puncel, membeli satu tongkol gemuk dan beberapa demang konthe segar.

Go on »