

Para peserta dan instruktur pelatihan berfoto bersama di hari terakhir. Johan Tambotoh (mengenakan kemeja bergaris biru) berdiri di depan saya. Johan Pieter berdiri paling kanan.
Februari 2008. Jam di ponsel saya menunjukkan waktu tepat pukul 18.00 saat Panther biru itu berbelok ke kiri selepas jembatan yang mengangkangi Kali Tuntang. Jalan raya yang lebar itu akhirnya tergantikan dengan jalan desa yang kecil, namun tetap beraspal baik. Para penumpang masih duduk dengan posisi yang sama seperti kemarin. Hanya bedanya, kali ini adalah Ojohn yang duduk di samping kiri saya, bukan Opha.
Saya sendiri cukup menikmati sore itu. Di sebelah kiri jalan, mengalir Kali Tuntang yang cukup tenang dan keemasan karena tertembak cahaya senja. Sedangkan di sebelah kanan ada “dinding” tanah yang dipagari pohon-pohon pisang. Segera setelah menghabiskan tepian kali, kami memasuki kawasan pedesaan yang tenang dari Kabupaten Semarang. Sawah terhampar di kiri dan kanan jalan.
Tujuan kami kali ini adalah Purbalingga, sebuah kabupaten di bagian barat Jawa Tengah yang terkenal karena industri knalpotnya. Beberapa jam yang lalu di kampus, sebelum berangkat, saya dan JT sudah melihat peta kabupaten itu lewat Wikipedia. Melihat lokasinya, yang berdekatan dengan Purwokerto dan Banyumas, membuat kami tahu bahwa di sana kami akan sering mendengar dialek khas yang terdengar sedikit menggelikan.
Sejak lokakarya bulan Januari lalu di Semarang, FPESD Jateng telah meminta Bistek untuk memberi pelatihan internet kepada para pengusaha UKM dari klaster knalpot di Purbalingga. UKM dirasa perlu mendapat sentuhan teknologi informasi agar dapat berkembang lebih pesat lagi, terutama dalam aspek produksi dan pemasaran. Setelah jadwal, tempat, dan fasilitas disediakan dan selesai diatur oleh FPESD, maka JT, Ojohn, dan saya pun berangkat sore itu.
Berdasarkan informasi yang kami dapat, yang akan jadi peserta pelatihan kali ini adalah anak-anak alias generasi penerus dari para pengusaha knalpot di Purbalingga, sehingga kami tidak perlu kuatir akan lemahnya daya tangkap peserta terhadap materi pelatihan yang kami bawakan. Pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, memang lebih sulit mengajak orang-orang yang sudah berumur untuk belajar hal-hal baru, apalagi hal-hal yang berbau teknologi informasi.
Mengenai materi pelatihan sendiri, karena ini baru pada tahap pengenalan, maka yang kami siapkan adalah sedikit pengenalan tentang internet sebagai pendahuluan, konsep-konsep dasar pemasaran internet, dasar-dasar desain grafis, dan dasar-dasar pembuatan blog. JT kebagian materi yang pertama. Ojohn dapat yang desain grafis. Sisanya saya. Targetnya jelas, seusai pelatihan ini, para peserta diharapkan bisa membuat situs usahanya sendiri dengan menggunakan media blog.
Kami tiba di Purbalingga sekitar pukul setengah sebelas malam. Agak terlambat karena di jalan sempat tersesat. Kami semua baru pertama kali ke Purbalingga, termasuk Pak Yoko, sang sopir. Sebenarnya Ojohn pernah beberapa kali, tapi Ojohn pun lupa jalan rupanya. Setelah beberapa saat berputar-putar di dalam kota dengan sedikit bingung, akhirnya kami tiba juga di hotel yang sudah disiapkan panitia. Dan setelah koordinasi sebentar, kami pun tidur di kamar masing-masing.
Esoknya, materi hari pertama dibuka oleh JT dengan pengenalan tentang internet dan manfaat-manfaatnya bagi bisnis UKM, sebagai pendahuluan. Setelah itu, giliran saya menyampaikan konsep-konsep dasar pemasaran internet lewat email, forum, sampai dengan mesin pencari. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan, apalagi saya bukan praktisi di bidang ini. Singkat kata, paparan saya lebih bersifat teoretis. Kalaupun ada yang saya ambil dari pengalaman saya, paling-paling hanya dari aktivitas saya “menjual diri” lewat blog ini. Tapi, ini juga masih dirasa kurang jelas karena barang yang hendak dijual sudah berbeda. Mereka menjual knalpot, sedangkan saya “menjual” pemikiran saya.
Di hari kedua, kami sudah cukup akrab dengan para peserta. Logat-logat Banyumas yang kental sudah saling bersahutan di dalam ruangan. Saya cukup geli, tapi ini cukup menyenangkan. Para peserta sudah tidak canggung lagi untuk berinteraksi dengan instruktur. Ini artinya, kami berhasil “mendarat” di tempat mereka. Materi desain grafis yang dibawakan oleh Ojohn juga lebih banyak prakteknya. Inilah yang membuat JT, saya, dan Ojohn sendiri sering berkeliling ruangan untuk membantu peserta yang kesulitan. Kami berbaur satu sama lain.
Ketika sedang waktu istirahat, seorang peserta bernama M. Nur Said memberi pengakuan kepada saya. Dia bilang bahwa hari pertama pelatihan kemarin adalah kali pertamanya menggunakan komputer. Dia mengaku tidak pernah menyentuh keyboard sama sekali sebelumnya. Saya pikir orang ini jenius. Baru dua hari memegang komputer, dia sudah lumayan lancar berselancar di internet dan melakukan editing gambar, walaupun hanya sedikit.
Sisa paruh hari kedua sampai selesai adalah jatah saya lagi. Setelah saya beri pendahuluan tentang faktor “apa” dan “kenapa” blog bagi dunia UKM, saya langsung jelaskan tentang bagaimana membuat sebuah situs usaha berbasis blog. Sama seperti materi desain grafis yang dibawakan Ojohn, materi blog ini juga sangat praktikal, sehingga kami bertiga harus banyak-banyak berkeliling ruangan untuk membantu para peserta. Setelah menyelesaikan panduan mendaftar di WordPress, saya mempersilakan para peserta untuk memilih tema blog yang paling pas di hati, yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang elemen-elemen sidebar dan pemasangan header blog menggunakan gambar yang telah mereka edit sendiri, pada saat materi desain grafis sebelumnya.
Setelah pelatihan hari kedua, malam harinya kami bertiga jalan-jalan keliling kota. Kebetulan, ada seorang mahasiswa UKSW lain yang sedang pulang kampung ke Purbalingga dalam rangka Imlek. Namanya Wiwit, tapi biasa dipanggil dengan julukan “Komeng.” Jadi, Wiwit inilah yang berjasa mengantar kami bertiga bermalammingguan di alun-alun Purbalingga.
Kami mengunjungi pasar malam di alun-alun. Ramai sekali. Ojohn bilang mirip Pasar Keputran yang ada di Surabaya. Tapi, menurut saya berbeda. Pasar malam ini memakan satu jalan penuh, sedangkan Keputran masih menyisakan satu ruas jalan untuk kendaraan bermotor. Kalau di Keputran banyak yang berjualan sayur mayur dan daging mentah, di pasar malam Purbalingga tidak ada yang berjualan makanan mentah.
Sambil jalan, saya bilang bahwa ketika pelatihan, saya selalu ingin tertawa karena dialek peserta yang lucu. JT menimpali dengan pernyataan bahwa para peserta juga sering tertawa ketika para instruktur sedang berbicara. Mungkin, mereka geli karena tidak terbiasa mendengar logat JT yang Manado, Ojohn yang Ambon, dan saya yang Suroboyoan. Jadilah kami saling menertawakan.
Di hari ketiga, materi tetap blog. Sepanjang hari itu, para peserta belajar bagaimana menulis posting dan halaman, serta melakukan editing dan penyisipan gambar. Setelah itu, para peserta dipersilakan untuk berkreasi sesuka hati di blognya masing-masing. Pemandangan yang menggembirakan adalah ketika para peserta begitu bersemangat mengikuti pelatihan. Bahkan, ketika mereka dipersilakan beristirahat untuk makan siang, beberapa orang peserta lebih memilih memakan jatah nasi kotaknya di depan komputer sambil terus mengotak-atik blognya. Yang lain memilih segera menyelesaikan makan siang terlebih dahulu, lalu kembali mengotak-atik blognya sebelum jam istirahat habis.
Dari seluruh blog yang dibuat oleh para peserta, yang saya rasa paling baik adalah buatan peserta bernama Muftafi Ali. Selain karena pemilihan tema dan tata letak blog yang saya rasa pas, posting dan halaman yang ditulis juga cukup informatif. Header-nya juga lumayan. Adapun daftar blog milik peserta pelatihan yang lain dapat dilihat di sini.
Pelatihan ini hanyalah awalan. Saya sadar bahwa setelah ini masih diperlukan banyak upaya, kerja keras, dan tindak lanjut serius untuk membantu UKM dalam penerapan dan pemanfaatan teknologi tepat guna bagi pengembangan bisnisnya. Paling tidak, dalam tiga hari ini, JT, Ojohn, dan saya telah berusaha menunjukkan kepada UKM di Purbalingga bahwa teknologi informasi bukanlah barang yang mahal maupun sulit, bahkan bagi usaha sekelas UKM sekalipun.





There are 18 comments already. Say something!