Sore itu Yodie Hardiyan mendatangi kos saya. Dia (tampak agak bersemangat) menceritakan rencana yang telah dibicarakannya bersama Surya Probo Kusuma, ketua senat mahasiswa fakultas kami, untuk mengadakan pelatihan menulis artikel media massa untuk sivitas akademika Fakultas Ekonomi. Yodie mengajak saya untuk bergabung dalam satuan tugas yang akan segera dibentuk. Saya mau. Khusus untuk kegiatan seperti ini saya mau.
Pelatihan ini bukan kegiatan terstruktur. Ia, kata Surya, tak termasuk struktur program Senat yang disahkan lewat rapat lembaga kemahasiswaan yang berlapis-lapis itu. Kebetulan saja, Senat periode Surya punya sisa anggaran cukup banyak, karena ada beberapa kegiatan terstrukturnya yang batal dilaksanakan kemarin. Pelatihan menulis artikel ini adalah salah satu dari dua kegiatan pamungkas yang direncanakan untuk menghabiskan sisa duit, agar tak kembali ke tangan Fakultas.
Rapat pertama dilakukan dua minggu sebelum “Hari H”. Tak perlu waktu lama karena Yodie sepertinya telah punya konsep matang: peserta duapuluhan orang, pembicara Bandung Mawardi, tempat Kampoeng Percik, ada sesi diskusi soal teori plus sistematika menulis (juga sesi penyayatan tulisan peserta), ada pembukuan tulisan hasil pelatihan, tak ada sertifikat pascakegiatan, dan … tak ada kredit poin.
Maklumlah kalau Yodie punya konsep seperti itu. Dia, seingat saya, pernah ikut pelatihan menulis bikinan Iwan Piliang dan Kompas, yang sepertinya punya format serupa: ada diskusi teoretis dan kritik tulisan. Yodie juga saya lihat punya sedikit alergi terhadap bentuk formalitas seperti sertifikat kegiatan, apalagi kredit poin yang lazim di kegiatan kemahasiswaan Satya Wacana. Kebanyakan mahasiswa ikut kegiatan dengan motivasi utama mengoleksi poin keaktifan hingga jumlah tertentu. Pertanyaan yang sering mereka ajukan sebelum “membeli” sebuah kegiatan adalah “ada poin nggak?” atau “dapet poin berapa?”. Di Satya memang ada ketetapan batas minimal poin jika seorang mahasiswa ingin bisa maju ujian skripsi. Dan Yodie (serta kami, anggota satuan tugas) tak ingin ada satu pun peserta yang ikut pelatihan ini karena punya motivasi kepoinan. Kami ingin motivasi peserta murni keilmuan.
Tapi nyatanya kami tak sepuritan itu juga. Sempat kami berpikir untuk menyediakan fasilitas kaos untuk peserta. Alasan kami, kaos bisa lebih menarik minat peserta. Apalagi pelatihan dilaksanakan saat semester pendek, saat-saat dimana hanya ada sedikit mahasiswa beredar di kampus. Namun rasionalisasi ini akhirnya mentah dengan satu pesan singkat bendahara Senat kepada Yodie, yang dikirim malam sehabis rapat pertama: “Kenapa yang jadi motivasi kaos? Kalo kita menghindari mahasiswa yang motivasinya poin, mestinya kita juga menghindari mahasiswa yang motivasinya kaos.”
Minggu pertama lewat hanya dengan dua kali rapat. Yodie kebagian tugas menyusun rundown acara serta berkoordinasi dengan pembicara. Rizka memastikan ketersediaan tempat dan peralatan. Putri dan Phyra mengurusi logistik dan perijinan kuliah. Saya sendiri mengasuh ranah publikasi: membuat blog, poster, pamflet, sampai pengumuman di Facebook. Urusan proposal dan laporan pertanggungjawaban (LPJ) dibagi dua. Cewek-cewek mengurus proposal, cowok-cowok mengerjakan pertanggungjawaban. Pembagian ini bukannya mau seksis. Ia berdasarkan asas kepraktisan belaka. Dan tulisan ini adalah salah satu versi LPJ itu.
.
Saya bekerja secara lancang dan temperamental. Dalam rapat disepakati bahwa nama kegiatan ini adalah Tulis! Idemu Biar Ramai — disingkat Tulis!IBR. Namun saya sengaja menambahinya dengan angka tahun menjadi Tulis!IBR 2009, untuk menciptakan kesan bahwa ini kegiatan tahunan yang baru saja dimulai tahun ini.
Harapan saya sederhana: pelatihan serupa dihelat lagi tahun depan dan tahun-tahun depannya lagi. Saya pikir pelatihan menulis seperti ini bisa memperkaya jenis kegiatan mahasiswa FE yang itu-itu saja: seminar, ceramah, diskusi permulutan, latihan kepemimpinan, simulasi bisnes, tata boga eksekutif, pekan ilmiah, dan sebangsanya. Seperti ungkapan Yodie dalam pendahuluan proposal, “berdasarkan pengamatan kami, tidak banyak mahasiswa FE UKSW yang tulisannya dimuat di kolom mahasiswa (apalagi kolom opini umum) media massa.” Padahal menulis kolom populer merupakan salah satu laku intelektual yang (mestinya) lekat dengan keseharian mahasiswa, yang juga disebut-sebut sebagai “kaum intelektual”.
Ketika baru-baru ini harian Kompas memilih lima orang intelektual sebagai Cendekiawan Berdedikasi 2009 — di antaranya termasuk Liek Wilardjo, fisikawan Satya Wacana — mereka menerangkan siapakah sejatinya intelektual itu: “Merekalah orang yang ahli di bidang ilmu tertentu tetapi keluar dari ranah kepakaran mereka dan mendarmabaktikannya untuk kepentingan yang lebih luas.” Dan salah satu bentuk ikhtiar untuk itu adalah menyampaikan pemikiran pada khalayak ramai melalui kolom-kolom massal. Para intelektual tidak berhenti hanya pada makalah-makalah ilmiah, tesis, atau disertasi akademis, yang cara membikinnya telah dipelajari pada matakuliah Bangunan Teori dan Metodologi Penelitian. Para cendekiawan tidak berhenti pada brevet kesarjanaan. Saya ingin mahasiswa FE tidak berhenti pada brevet kesarjanaan.
Saya merampungkan blog pelatihan tanggal 14 Juni 2009. Itu sekitar seminggu sebelum Hari H, atau sehari sebelum publikasi dan pendaftaran (juga perjuangan proposal) dimulai. Situs blog tersebut saya bangun di alamat http://fe.uksw.edu/tulisibr/ menggunakan platform gratis dari WordPress, yang memungkinkan pengarsipan tahunan, sehingga apabila pelatihan ini benar-benar diadakan tahun depan dan tahun-tahun depannya lagi, maka dokumentasi pelatihan per tahun dapat diakses dengan menambahkan angka tahun yang dimaksud pada akhir alamat blog yang sama (misalnya: http://fe.uksw.edu/tulisibr/2009/).
Pamflet baru saya selesaikan 15 Juni sore. Dan poster, publikasi online di uksw.edu dan Facebook, karena kemalasan yang menjajah saya waktu itu, baru bisa selesai 17 Juni sore. Padahal jadwal publikasi dan pendaftaran yang telah disepakati rapat satuan tugas adalah tanggal 15 hingga 20 Juni. Jadi, saya kira, keterlambatan ini turut jadi penyebab mengapa jumlah peserta tak mencapai separuh kuota tentuan kami.
Hanya sepuluh orang mendaftar dan mengirim syarat mutlak mengikuti pelatihan: tulisan bebas sepanjang 2.500 sampai 7.500 karakter. Mereka seluruhnya mahasiswa — mungkin para dosen sedang sibuk — dan tiga di antaranya non-FE. Namun yang seorang batal ikut karena harus mengebut penerbitan media mahasiswanya. Kami memang akhirnya menerima peserta dari luar FE karena tersedia banyak “sisa tempat”.
Sehari sebelum pelatihan (22 Juni), semua sudah fixed. Peserta, pembicara, tempat, materi, konsumsi, dan sebagainya telah dipesan dan siap. Namun kesiapan ini masih mengandung risiko, setidaknya secara finansial, karena proposal kegiatan masih belum lolos dari jaring-jaring birokrasi, dan “uang dari atas” belum turun. Tapi otak punya pikir, apa susahnya sih jalan terus? Ternyata belakangan kami dapat “kepastian” bahwa duit kegiatan akan turun 24 Juni jam dua siang, tepat saat pelatihan usai.
.
Secara umum (ehem!) pelatihan berjalan sesuai rencana. Bandung Mawardi mengajar dan menghajar tulisan peserta tanpa sungkan. Kadang kritiknya malah terdengar satiris bin sarkastis. “Saya tidak terbiasa mengelola cangkem saya,” katanya.
Penyayatan tulisan jadi sesi paling menarik perhatian saya. Dua sesi sebelumnya, teori dan sistematika menulis, saya amati sepintas lalu saja. Yang teringat, Bandung menuliskan frasa “teori menulis” di karton putih itu, sebelum akhirnya mengurek-urek kata “teori”-nya. Menulis memang tak butuh teori. Sistematikanya yang terbaik dirancah alami oleh pikir yang sehat, bukan kelas menulis yang hebat.
Entah kenapa, saya memutuskan untuk berhenti menulis di sini. Saya ingin kembali melebur sadar ke realitas nonverbal. Jeleh dengan kata-kata, angka, bahasa, dan konsep. Mereka semua tipuan. Ah!
*) Untuk epilog Bukan Teori Menulis, buku-bukuan buah pelatihan Tulis! Idemu Biar Ramai 2009.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Duis placerat turpis quis mi mollis imperdiet. Integer luctus suscipit placerat.
1. James
03/07/2009 07:19 pmtak ajak ke dunia visual..
yuk..