Tuhan. Sebuah kata licin yang belum juga tuntas dibicarakan. Manusia bisa saja tergelincir ke dua sisi yang berlawanan, dan saling mengibaskan pedang, hanya demi monopoli paham atas Tuhan. Namun mereka yang tidak tergelincir, mengusahakan perdamaian.
Tuhan adalah sebuah kata yang mestinya telah hilang dari perbendaharaan, tetapi masih akan saya simpan, setidaknya untuk matakuliah Pendidikan Agama semester ini. Kata seorang teman — dan saya mengamininya — lebih baik bertuhan daripada berkhotbah tentang Tuhan. Namun, apa (atau siapa) itu Tuhan?
Saya lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga Jawa Kristen yang cukup konservatif. Kakek dan nenek saya berjemaat di Gereja Kristen Jawa. Di Surabaya, saya mengekor orangtua saya berjemaat di Gereja Kristen Indonesia. Saya menerima baptisan tatkala masih bayi, dan mengaku “iman” saya di hadapan jemaat pada usia sekitar 17 tahun. Iman dalam tanda kutip karena waktu itu saya belum punya pemahaman memadai tentang iman. Pendeta hanya menanyai saya dengan sebuah pertanyaan — saya lupa apa — dan saya hanya menjawab ya, maka saya dianggap sudah mengaku iman di hadapan jemaat. Saya tidak menyesali perbuatan itu, namun saya jadi penasaran, apa yang akan terjadi seandainya waktu itu saya menjawab pendeta dengan sebuah tidak?
Sejak kecil, saya sudah (maaf) membenci gereja dan sekolah minggunya. Saya selalu merasa Minggu pagi adalah pagi paling cerah dalam seminggu. Saya ingin menikmatinya sendirian dengan cara saya sendiri: menonton filem, berjalan-jalan, berolahraga, bersantai, dan sebagainya. Namun otoritas orangtua hampir selalu memaksa saya pergi ke gereja atau sekolah minggu. Di sana saya harus duduk jika disuruh duduk, berdiri jika disuruh berdiri, bernyanyi jika disuruh menyanyi, membaca jika disuruh membaca, berdoa jika disuruh berdoa. Saya merasa jadi orang suruhan. Katanya, Kristus datang untuk melepaskan manusia dari belenggu dosa, tetapi orang-orang Kristen justru membelenggu saya dengan dogma dan ritual gereja. Belenggu ini, katanya, harus dipakai sebagai bentuk pengucapan syukur kita atas penebusan Kristus di kayu salib, agar Kristus senang. Beribadah di gereja dan mematuhi dogma-dogma dianggap sebagai ucapan terima kasih kepada Kristus. Apakah Kristus memang senang membelenggu orang?
Ketika saya SD, saya paling tidak menyukai guru agama karena galak, tidak cantik, dan munafik. Tatkala saya SMP, saya berpendapat bahwa subjek-subjek moralistik seperti agama, PPKn, dan budi pekerti tidak seharusnya diajarkan dengan pidato dan khotbah. Saat saya SMA, saya selalu tertidur pada jam-jam pelajaran agama dan PPKn.
Saya senang sekaligus sedih ketika nenek saya dari Grobogan datang ke rumah dan tinggal selama beberapa bulan di Surabaya. Senang karena setiap hari saya bisa mendengar cerita sejarah masa mudanya. Sedih karena kedatangannya mengentalkan nuansa religius di rumah. Di usianya yang 90 tahunan, nenek saya tak lagi membaca apapun kecuali Alkitab dan beberapa buku renungan harian. Hampir setiap sore atau malam, dia akan mengorganisir kebaktian kecil-kecilan di rumah, dan Bapak, Ibu, saya beserta ketiga adik saya, wajib ikut jika tidak ingin membuatnya marah. Nenek mengajari saya untuk menyebut “Gusti, tulung..” berulang-ulang sambil mengelus bagian tubuh yang sakit. Dia mengajari saya meratap.
Akan selalu ada konflik jika saya menentang perintah orangtua saya untuk pergi ke gereja. Orang Kristen harus ke gereja. Yang selalu dipakai sebagai alasan adalah konsep koinonia, bahwa orang Kristen perlu bersekutu bersama dalam Tuhan. Padahal, koinonia itu cuma konsep; hasil rekayasa nalar belaka. Dan itulah hebatnya orang Kristen, bisa mengeluarkan bermacam-macam konsep dan teori untuk menjelaskan Tuhan dengan segala macam “produk” turunan-Nya, seperti gereja dan agama. Mereka melarang orang menalar Tuhan, tetapi mereka sendiri menalar Tuhan dengan sesukanya. Hasil penalaran itu tidak harus logis, “yang penting pokoknya” (YPP) harus bisa meyakinkan seseorang bahwa dia akan masuk sorga jika mau menaati dogma.
Pernah suatu kali saya pulang ke rumah dalam kondisi mabuk. Hari itu Minggu pagi. Saya baru saja menghabisi malam Minggu bersama teman-teman SMA. Mereka menyambut kedatangan saya dari Salatiga dengan minuman keras. Kami baru selesai minum sekitar jam lima pagi. Saya pulang ke rumah, dan langsung rebah. Keluarga kami biasa berkebaktian jam delapan pagi di gereja. Maka menjelang “waktu-waktu suci” tersebut, Bapak mencoba membangunkan saya, untuk menyuruh saya mandi. Dia guncang-guncangkan badan saya. Tidak mempan. Dia tampar-tampar muka saya, namun alkohol membuat muka saya terasa tebal dan mati rasa. Rasanya dia marah tahu saya mabuk berat. Akhirnya, Bapak ngotot menyeret saya dari tempat tidur menuju kamar mandi. Namun dengan kesadaran secukupnya saya bangkit dan meledak. Saya pukul ayah saya, dan kembali ke tempat tidur. Saya menyesal telah memukul Bapak, tetapi saya sama sekali tidak menyesal memukul orang yang fanatik gereja. Posisinya jadi agak rumit jika orang yang fanatik gereja itu adalah ayah saya sendiri. Sejak saat itu saya tak pernah mabuk lagi. Bukan karena mabuk itu dosa, tetapi karena mabuk membuat saya tidak enak badan seharian.
Ketika saya SMP, saya pernah bertanya kepada Bapak. Bagaimana rasanya jika kita tidak ada? Apa rasa dari sebuah ketiadaan? Apakah ketiadaan itu ada? Jika nanti kita mati, apakah kita akan tetap ada? Tahu darimana? Tidak ada jawaban. Penjelajahan filosofis kami buntu dan, saya kira, itulah titik awal dimana saya mulai merasakan semacam “krisis eksistensial”. Saya merasa hidup dalam satu tanda tanya besar. Pertanyaan-pertanyaan itu menganga bagai lubang hitam, yang selalu menelan habis setiap jawaban atau pengetahuan yang saya masukkan. Tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang pas.
Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu, tetapi bagaimanapun juga, sebagai seorang siswa SMP (dan akhirnya beranjak SMA) saya harus belajar mengabaikannya karena tuntutan konsentrasi pada subjek-subjek sekolahan yang menjemukan. Oh, Tuhan, kata saya dalam hati, kalau Engkau benar ada, bantulah aku menemukan jawaban!
Dan Tuhan tidak menjawab. Sial.
Saya jadi penasaran. Apakah Tuhan betul ada? Ataukah Ia hanya satu sosok rekaan manusia beragama?
Ketika kuliah di Satya Wacana, saya mulai mendapat lebih banyak kebebasan belajar. Menjelang tahun kedua bermahasiswa, saya bahkan mendapat kesempatan untuk cuti kuliah selama hampir dua tahun lebih. Waktu tersebut saya gunakan untuk coba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang makin banyak dan menumpuk. Darimanakah dunia berasal? Itu salah satu pertanyaan terbesar saya dulu.
Saya jadi agak bersemangat untuk belajar teori-teori penciptaan dunia (dan manusia) dari berbagai macam sisi, mulai dari biologi hingga teologi. Saya pernah menulis esai kecil berjudul Antara Evolusi dan Penciptaan. Isinya adalah beberapa teori soal masa lalu dan masa depan manusia. Spekulasi tersebut dibangun di atas bermacam-macam dasar, mulai dari yang arkeologis, biologis, sampai yang teologis. Macam-macam. Dan masing-masing punya kebenarannya sendiri-sendiri. Lalu mana yang paling benar (paling sesuai dengan kenyataan)?
Saya belajar dari epistemologi Kawruh Jiwa, salah satu “aliran” filsafat tradisional di Salatiga, bahwa kenyataan hanya ada pada saat ini, di sini, dan begini. Kenyataan tidak hidup di masa lalu. Apa yang tertinggal dari masa lalu hanyalah kenangannya, catatannya. Dan catatan tentang masa lalu tidak sama dengan masa lalu itu sendiri. Ada pembedaan antara catatan dengan yang dicatat, antara kata-kata dengan yang dikatakan. Catatan tentang masa lalu masih ada dan hidup dalam lembar-lembar memori kita masing-masing. Namun masa lalu itu sendiri?
Di sini saya mulai belajar pasrah. Nrima. Saya mafhum bahwa asal usul alam semesta senantiasa menjadi misteri, sekalipun sains yang paling keras seperti fisika telah mengeluarkan teori dan klaim-klaim. Sains ternyata tidak lebih benar dari agama, meski ada juga agama yang lebih serampangan dari sains dalam menglaim kebenaran. Penciptaan, kalau benar ada, tentu terjadi di masa lalu. Siapakah manusia yang pernah mengalami peristiwa itu secara langsung? Mana buktinya? Dan dapatkah bukti tersebut diverifikasi dengan bukti lain? Karena seorang saksi bukanlah saksi, dan sepotong bukti bukanlah bukti.
Manusia, dengan segala keterbatasannya, punya hasrat yang terlampau besar untuk mengetahui segalanya, termasuk masa lalu. Kita berpretensi untuk mengetahui asal usul kita, agar dapat memrediksi kemana kita akan pergi. Prediksi kemana kita akan pergi menjadi terasa penting karena sebetulnya, dalam hati kecil kita, kita memiliki kecemasan tentang masa depan yang tak pasti. Apakah kita akan terus ada nanti? Bagaimana rasanya jika kita tak lagi ada — bahkan dalam wujud roh?
Karena itulah muncul berbagai macam teori untuk menerangkan sebuah awal. Kita mengarang berbagai macam narasi besar untuk menjawab darimanakah kita berasal. Di sini, sains kadang lebih jujur ketimbang agama. Agama, yang narasinya lebih banyak (maaf) “terbelakang” secara metodologis, sering mengeluarkan sosok Tuhan sebagai sumber dan tujuan legitimasi ajarannya. Oh, ajaran agama saya pasti paling benar karena wahyunya datang langsung dari Tuhan, begitu kira-kira. Karena itulah, ketika ada agama lain yang melakukan klaim ilahi terhadap ajaran yang berbeda, pasti bukan berasal dari Tuhan. Dan kalau bukan Tuhan, itu pastilah Setan. Kita harus memerangi Setan, dan membela Tuhan. Padahal, apa (atau siapa) itu Tuhan? Ini satu pertanyaan besar (lagi).
Maka muncullah berbagai macam konsep tentang Tuhan. Islam muncul dengan Asma-ul-Husna untuk mendeskripsikan Allah. Kristen muncul dengan Trinitas untuk menerangkan hubungan “unik” antara Yahweh, Kristus, dan Roh Kudus. Hindu punya konsep Trimurti. Dan masih banyak yang lain.
Pertanyaannya, apakah konsep tentang Tuhan adalah Tuhan itu sendiri?
Kalau kita berkoar-koar bahwa kita sedang membela Tuhan atas nama kebenaran, mana sebetulnya yang sedang kita bela mati-matian sampai mematikan orang lain? Tuhan atau konsep (agama) kita tentang Tuhan? Jangan-jangan, selama ini kita telah menganggap konsep kita tentang Tuhan sebagai Tuhan itu sendiri. Jika demikian, artinya kita telah bertuhan kepada konsep, kepada pemikiran, kepada sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Lantas, apa bedanya ini dengan penyembahan berhala?
Jika konsep tentang Tuhan bukanlah Tuhan, lantas manakah Tuhan? Orang Jawa mengatakan, Tuhan ada di dalam dirimu, tetapi jangan kamu sebut dirimu Tuhan. Ini, tentu saja, juga konsep belaka. Konsep ketuhanan versi Jawa. Banyak paradoks. Namanya juga konsep. Nietzsche bahkan sudah tidak lagi berurusan dengan Tuhan, karena Tuhan telah mati baginya. Saya sendiri tidak tahu apa (dan siapa) itu Tuhan. Saya seorang agnostik. Agnostik secara harafiah berarti “tidak tahu”. Saya tidak tahu apa (dan siapa) itu Tuhan.
Jadi, siapa yang tahu? Dan bagaimana bisa tahu? Lewat baca kitab? Kalau membaca kitab, itu artinya kita hanya percaya kata-kata kitab, percaya konsep. Lagi-lagi, kita akan menuhankan konsep. Dan percaya artinya sama dengan tidak tahu. Lalu bagaimana? Lewat mengalami sendiri? Pengalaman yang seperti apa? Dan bagaimana kita tahu kalau pengalaman itu adalah pengalaman tentang Tuhan, bukannya Setan? Mengalami adalah cara mengetahui yang masih dianggap sahih oleh para epistemolog individual. Namun pada relung filosofis yang terdalam, dimana kita sadar bahwa fungsi indra kita amat terbatas dan bisa menyesatkan, Socrates telah berjiwa besar dengan mengakui, “Aku tak tahu apa-apa.”
Mungkin kita semua seperti Socrates. Mungkin kita semua adalah agnostik. Saya sering mendengar orang-orang beragama mencetuskan kalimat, “Tuhan memang maha tahu. Manusia hanya sok tahu.” Ya, kalimat ini sepenuhnya benar, saya kira. Jika kita manusia tidak sok tahu, bagaimana mungkin kita menyatakan bahwa Tuhan adalah maha tahu? Kita bilang Tuhan maha tahu, karena kita memang sok tahu.
Saya suka tulisan ini, karena beberapa mirip dengan yang saya alami.
Saat kuliah, kesempatan untuk mencari tahu tentang Tuhan sangat luas. Yang saya pakai acuan dari Alkitab karena sejak kecil inilah yg saya tahu, khususnya pada kalimat “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”.
Dari kalimat inilah saya kemudian ingin mencari Tuhan dengan macam2 cara dari diskusi, baca buku, dll.
Hasilnya nihil saya tidak menemukan Tuhan.
Akhirnya ya.. tidak saya cari lagi.. Saya hanya menikmati hidup ini dengan cara saya sendiri. Saya suka ajaran Kristen tentang kasih, itu saja yang saya lakukan, walau belum bisa seperti Kristus dalam cerita di Alkitab.
Tapi ada kebahagiaan yang saya alami ketika bisa mengasihi orang lain.. Sementara ini Kerajaan Allah bagi saya adalah kebahagiaan saya dan orang lain.
Oh ya, Saya Fans Berat Yesus Kristus. Jadi Saya Kristen. tidak masalah bagi saya jika ke gereja. Apalagi saat dirumah keluarga.. Ya ikut saja saya ke gereja, dengan pertimbangan tidak menyusahkan hati mereka.
Tapi saat saya pada kehidupan sendiri ya terserah saya..
Gbu (Geritz Bless u)
hehe..
@ Febri: Aku juga Kristen. Kristen agnostik. Hahaha.. Biasanya aku ke GKJ depan kampus atawa GPIB Tamansari, soalnya aku ga seberapa cocok sama ibadah yang “heboh” kayak orang-orang karismatik. Hehehe..
Sebenarnya tulisan ini kalau mau jujur adalah isi hati hampir semua orang yang cerdas (orang tidak cerdas biasanya ikut saja dan jadi juara 1).
Pengetahuan kita tentang Tuhan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman masa lalu, orang-orang terdekat kita dsb.
Kalau saya sendiri percaya Yesus, karena
1. Dia yang selalu mengetuk pintu hati dan saya
menerimanya masuk dalam hati saya.
2. Saya tidak menemukan kelemahan dan dosa dalam diri
Yesus (versi alkitab).
3. Sampai hari ini saya tidak perbah dikecawakan olehNya.
@ didik: Makanya itu, sekarang saya belajar biar jadi orang ga cerdas. Biar jadi juara 1. Haha..
di kalangan orang beragama, seringkali pencarian akan tuhan disejajarkan dengan kegiatan ibadah (rutin) mereka, berasa, mengira, ketika mereka beribadah itu mereka sedang mencari tuhan, tapi apakah mereka benar-benar menemukannya..?? jika mau jujur, yg ditemukan (mungkin) adalah rasa damai, bebas dari rasa bersalah karena tuntutan aturan bahwa orang bertuhan (beragama) semestinya ya beribadah kepada tuhannya, di “rumah tuhan” dengan mengikuti aturan tertentu, atau kadang justru menjadi euforia (sesaat) setelah mendapatkan sugesti psikologi berdasarkan kitab suci yg kemudian akan hilang begitu saja ketika keluar dari pintu rumah tuhan.
saya pribadi lebih menyukai kesederhanaan beberapa orang (tua) yg dalam keterbatasan pengetahuannya menemukan tuhan sebagai “gusti kang makaryo jagad”, Tuhan Semesta Alam, bagi saya ini merupakan pemahaman sederhana yg mendasar, bahwa ada “SESUATU YANG ADA” yg menjadi awal dari semua yg ada yg saya ketahui sampai saat ini.
@ citta: Terimakasih buat sharing-nya. Saya suka hal-hal yang sederhana dan bersahaja. :)