Ulang Tahun di Merbabu

Rombongan berfoto di Gumuk Menthul (2.330 MDPL) sebelum turun. Dari kiri ke kanan: Indra, Jenny, Romy, Becka, Andre, Mey, Yosua, Angga, James. Aku mengambil gambar.

Sekitar dua minggu yang lalu, James mengajak aku mendaki Merbabu, salah satu gunung di Jawa Tengah yang punya ketinggian di atas 3.000 MDPL (meter di atas permukaan laut). James adalah teman kuliah seangkatan di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana. Dia orang Manado, tapi lahir dan besar di Makassar. Dia bilang, dia ingin merayakan ulang tahunnya ke-20 di puncak gunung.

Aku langsung mengiyakan. Sudah lama aku tak naik gunung, terakhir tahun lalu. Waktu itu Mitra Gahana, himpunan mahasiswa pecinta alam Fakultas Ekonomi, melakukan pendakian massal ke Merbabu. Aku dan James ikut sebagai “tim observasi” Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi. Tim observasi bertugas mengawasi pelaksanaan kegiatan lalu menulis laporan kepada BPM FE. Ini salah satu cara BPM FE memantau kegiatan kemahasiswaan di Fakultas Ekonomi. Pada periode 2006/2007, aku dan James dua kali jadi tim observasi untuk kegiatan Mitra Gahana. Kami ikut mereka panjat tebing di pantai Siung dan mendaki Merbabu.

Selain aku, James juga mengajak Andre, Angga, Becka, Indra, Mey, Romy, dan Yosua untuk ikut mendaki. Semuanya teman kuliah di Satya Wacana. Indra lalu mengajak Jenny, pacarnya.

Rombongan berangkat dari Salatiga sekitar jam sebelas malam, 25 Juli 2008. Sebetulnya rencana semula adalah berangkat jam sembilan malam. Tapi karena Mey masih mengisi acara Pesta Rakjat 2008 hingga jam sepuluhan, rencana tinggallah rencana.

Kami putuskan berangkat naik motor, karena sudah tak ada kendaraan umum lewat pada malam hari. Total ada lima motor dalam rombongan kami. Kami berboncengan dua-dua. James membonceng aku.

Sepanjang jalan aku lebih banyak mendongakkan kepala. Hamparan langit hitam bertabur bintang-bintang elok sekali dipandang. Sayang, aku tak tahu nama rasi bintang yang aku lihat malam itu. Tapi karena sekarang bulan Juli, mungkin rasi yang aku lihat adalah Centaurus dan Crux — satu bintang yang aku lihat paling terang malam itu mungkin Rigil Kentaurus (Alpha Centauri).

“Lihat ke atas. Bintangnya bagus,” celetuk Becka, yang dibonceng Andre. Mereka menyalip motor James dari sebelah kanan.

Rombongan sampai di basecamp Thekelan sekitar tengah malam. Itu artinya, 26 Juli 2008 akan atau telah tiba. Kami menyelamati James saat itu juga.

Kami tak berlama-lama di basecamp. Setelah menata ulang bawaan, kami mendaftar di pos komando pendataan, membayar “retribusi” pendakian sebesar Rp 2.000 per orang, lalu menyusuri jalan setapak, mendaki Merbabu.

Becka sempat terperosok di parit gara-gara jalan sambil lihat bintang. Badannya yang pendek mungil — tinggi Becka mungkin 150-an sentimeter — hilang mendadak dari pandangan kami. Semua tertawa, termasuk Becka.

.

Memasuki hutan lereng Merbabu, jalan setapak mulai menanjak, muatanku mulai terasa berat. Aku membawa 9 liter air mineral dalam tas. Kalau massa jenis air murni adalah 1 gram per sentimeter kubik, maka beban yang aku bawa adalah sekitar 9 kilogram. Ini adalah beban terberat yang pernah aku bawa mendaki. Celakanya, aku tak mengimbangi beban ini dengan persiapan fisik yang cukup. Aku jadi kuatir tak kuat menahan serangan asma.

Asma adalah kondisi kronis sementara dimana saluran nafas menyempit, meradang, dan terlapisi lendir dalam jumlah berlebih. Pada serangan asma, otot polos bronki mengejang dan jaringan pelapis saluran nafas membengkak karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran nafas. Ini akan memperkecil diameter saluran nafas udara (konstriksi) dan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas. Pemicu asma macam-macam: olahraga, udara dingin, debu, bulu binatang, asap, dan sebagainya.

Olahraga, udara dingin, dan debu adalah pemicu utama asmaku ketika mendaki gunung.

Dulu aku mampu mengatasi asma dengan mudah. Aku banyak-banyak main basket untuk melatih pernafasan anaerob, joging untuk pernafasan aerob, dan push up supaya otot dada kuat. Aku melakukan ketiganya secara rutin sejak duduk di Sekolah Menengah Atas, dan berangsur-angsur mandek sejak mulai kuliah pada 2006.

Ketika tahun lalu mendaki Merbabu bersama Mitra Gahana, aku masih kuat. Aku bisa mengimbangi laju gerak mereka dan menyembunyikan sesak nafas sedemikian rupa. Tapi untuk pendakian kali ini aku benar-benar payah.

Selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju pos pertama, Pending, nafasku tersengal-sengal dan berbunyi — orang Jawa bilang “bengek.” Kadar oksigen dalam darahku terus turun, sementara satu tarikan nafas beratnya bukan main. Otot dadaku sudah tak sekuat dulu. Konsentrasiku pada jalan setapak pun ikut pecah. Langkahku goyah. Aku beberapa kali oleng.

“Aku jadi pengen ketawa lihat mukanya Satria,” kata Becka dalam salah satu kesempatan istirahat. Mungkin dia merasa lucu lihat mukaku yang penuh keringat berekspresi megap-megap seperti orang tenggelam.

Asmaku baru berangsur-angsur hilang setelah rombongan melewati Pending. Jalan menuju pos kedua, Pereng Putih, banyak dataran dan turunannya. Kalaupun menanjak, ia tak semenanjak jalan sebelum Pending. Jadi medannya relatif lebih enteng. Tapi tenagaku terlanjur habis untuk bergulat dengan asma.

Selepas pos kedua, kakiku dua kali kram. Sempat juga terperosok ke lubang gara-gara tak konsentrasi lihat jalan. Aku lalu mengonsumsi banyak air dan gelek — semacam roti goreng yang padat — untuk mengganti cairan tubuh dan menyuplai kalori ke otot.

“Karena itu kamu cepat capek,” komentar Becka. Dia berpendapat, aku jadi gampang capek karena terlalu banyak minum air putih. Ketika masih di basecamp, Becka sempat menyarankan aku minum sirup Nutrisari kalau haus, karena Nutrisari manis dan dia anggap bisa menambah kalori dengan cepat.

Aku tak sepakat dengan Becka. Semasa SMA, aku pernah baca buku yang membahas olahraga basket dari berbagai sisi. Penulisnya mantan pelatih tim National Basketball Association — aku lupa namanya, juga judul bukunya. Di sana dijelaskan bahwa sirup, permen, gula-gula, dan berbagai asupan manis lainnya memang bisa menambah kalori dan menaikkan kadar gula darah dengan cepat. Tapi jeleknya, ia akan menyebabkan kadar gula darah turun dengan cepat pula. Ini disebabkan struktur glukosa yang sederhana pada asupan tersebut.

Jadi, sebaiknya hindari asupan-asupan manis dengan struktur glukosa sederhana saat berolahraga.

Air putih justru sangat dianjurkan karena mudah diserap tubuh. Ini baik untuk mengganti cairan tubuh yang keluar dalam bentuk keringat. Sedangkan kalau ingin menambah tenaga, dianjurkan mengonsumsi asupan berhidrat arang dan sari buah. Hidrat arang atau karbohidrat struktur glukosanya tak sederhana, demikian pula sari buah. Mereka tak membuat kadar gula darah cepat naik turun.

Menurutku, alasan yang lebih masuk akal atas kecapekanku adalah kondisi fisik yang memang lagi menye dan lembek karena tak ada persiapan. Mungkin aku harus lebih banyak olahraga, kalau sempat ….

.

Kami tiba di pos ketiga, Gumuk Menthul, sekitar jam tiga pagi. Indra dan Jenny langsung mengeluarkan ransum mi pizza mereka dan membaginya dengan rombongan. Orang-orang makan dengan ganas. Romy menyiapkan nasting dan mulai merebus air. Beberapa minta untuk menyeduh mi instan.

“Aku mau bikin Coffeemix.” Mey ikut minta air.

Selesai urusan perut, waktunya istirahat. Romy menggelar terpal yang dia bawa. Terpal itu kira-kira berlebar 2 meter dan berpanjang 3 meter. Becka, Mey, Indra, James, Jenny, Romy, dan Yosua rebah dengan kantong tidur masing-masing di atas terpal itu. Angga menggelar matras sendiri. Aku dan Andre memilih tak tidur dan mengobrol sampai pagi sambil duduk di depan pos.

Rombongan baru turun gunung sekitar jam sembilan pagi. Sebelum turun, kami berdoa dulu untuk James yang berulang tahun.

“Ya Tuhan, biarlah James bisa tambah ganteng, tambah imut, tambah sayang pacar …” Indra memimpin doa dengan pragmatis sekali.

band-merbabu