Work

Hashim Djojohadikusumo “Curhat” ke UKSW

Bambang Triyono et al.
Scientiarum

SALATIGA — Hashim Djojohadikusumo datang ke kampus Universitas Kristen Satya Wacana pada 15 Juli 2008. Kedatangan tersebut disambut rektor dan para wakil rektor, serta mantan rektor, John Andreas Titaley. Menurut Wakil Rektor IV, Agna Sulis Krave, Hashim datang untuk bersilaturahmi karena kebetulan sedang di Salatiga.

Hashim Djojohadikusumo adalah pengusaha nasional. Dia adik Prabowo Subianto, mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, sekaligus anak almarhum Sumitro Djojohadikusumo, ekonom Indonesia yang pernah lima kali menjabat sebagai menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru.

Pada Oktober 2006 Hashim pernah mengagetkan dunia bisnis internasional dengan melego Nations Energy, perusahaan minyaknya di Kazakhstan, senilai USD 1,91 miliar — aset perusahaan itu sendiri nilainya USD 2,3 miliar. Hashim mencuat lagi pada November 2007 karena keterlibatannya sebagai saksi pencurian arca milik Radya Pustaka, satu museum di Solo.

“Hashim ‘curhat’ tentang bangsa Indonesia,” cerita Agna.

“Menurut dia itu Indonesia sekarang memiliki disintegrasi yang tinggi. Dia juga menangkap kalau generasi muda tidak terlalu paham identitas bangsanya. Dari membaca maupun hasil polling, dia mengatakan bahwa Pancasila tidak relevan lagi.”

“Dia juga bicara tentang kemerosotan ekonomi bangsa. Reformasi yang sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun tidak lebih baik daripada masa Orde Baru.”

“Dia bilang, kapan lagi (UKSW) terjun ke politik? Beberapa hari ini (Hashim) melihat pentingnya terjun ke politik. Di Indonesia dibutuhkan pemimpin (yang) tidak hanya cerdas tetapi (juga) tegas.”

Agna menangkap, yang diharapkan Hashim dari UKSW adalah kerjasama di bidang pangan dan pendidikan. Khusus di bidang pendidikan itu menyangkut penyediaan tenaga-tenaga terampil dan peningkatan kualitas pendidikan.

Lantas, bagaimana respon UKSW sendiri?

“Intinya, dari adanya tawaran kerjasama kami merespon, bahkan proaktif, selain tidak ada maksud politis,” jawab Agna.

Peran alumni
Kedatangan Hashim Djojohadikusumo tidak lepas dari peran Nicholay Aprilindo, alumni Fakultas Hukum tahun 1986. Nicho saat ini bekerja sebagai legal advisor perusahaan-perusahaan di lingkungan keluarga Hashim Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto.

Saat ditemui Scientiarum di lobi hotel Quality pada 16 Juli 2008, Nicho mengaku sedih melihat UKSW sekarang.

“Padahal dulu terkenal macan Asia Tenggara. Sekarang, tikus aja gak dihitung. Dan kualitas mundur ke belakang. Yang dikejar kuantitas (mahasiswa),” tutur Nicho.

Sebagai alumni, Nicho ingin agar UKSW kembali pada visi-misi yang telah dibangun dahulu. Dia ingin UKSW jadi mercusuar pendidikan regional, nasional, bahkan internasional. Tentunya, dengan peningkatan mutu dan sumber daya manusia di lingkungan UKSW sendiri.

“Sehubungan dengan itu, saya membuka satu peluang (dengan) mengajak konglomerat Hashim Djojohadikusumo, putra begawan ekonomi Profesor Sumitro Djojohadikusumo, agar beliau dapat membantu memberikan kontribusi dan bantuan dana untuk perbaikan kualitas pendidikan dan kualitas SDM (sumber daya manusia — Red) di UKSW,” terangnya.

Peluang yang dimaksud Nicho adalah peluang pengembangan fakultas-fakultas yang diharapkan bisa mencetak para ahli dalam bidang-bidang yang menciptakan lapangan pekerjaan. Ada pula peluang studi lanjut bagi para dosen UKSW yang hendak menempuh jenjang S2 dan S3.

“Nah, peluang-peluang inilah yang seharusnya bisa ditangkap pihak YPTKSW (Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana — Red) maupun pihak rektorat UKSW. Dan, perlu diketahui, peluang ini bukan peluang profit oriented, tapi murni pengembangan pendidikan,” tegas Nicho.

Menurut Nicho, Hashim — lewat Yayasan Keluarga Hashim Djojohadikusomo — hingga kini telah memberi bantuan kepada Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Kristen Duta Wacana, dan satu SMA di Ungaran.

Ada dua alasan yang diutarakan Nicho mengenai kedatangannya dengan Hashim ke UKSW: (1) Nicho melihat UKSW sudah kehilangan jati diri dengan mengejar kuantitas; (2) perpecahan-perpecahan yang terjadi dalam tubuh UKSW sendiri membuat kualitas pendidikan UKSW terpuruk.

“Ini harus segera dibenahi dengan cara bergandengan tangan lagi, bersatu dan bekerjasama untuk membangun UKSW ke depan yang lebih solid. Dihargai dan disegani oleh berbagai kalangan intelektual.”

“Namun, yang terpenting daripada itu (adalah) bagaimana UKSW dapat menciptakan seorang intelektual yang creative minority.”

“Dan satu lagi saya tekankan, bagi pejabat-pejabat di lingkungan UKSW hendaknya jangan melihat perbedaan pendapat sebagai separatisme yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran. Tetapi perbedaan pendapat sebagai suatu khazanah argumentasi intelektual yang dapat memacu kepada kemandirian dan kemajuan UKSW sendiri.”

Laporan ini dikerjakan bersama Satria A. Nonoputra.

Posted by STR on Sunday, 20 July 2008, in his Work column.

No comments yet. Say something!


Leave a Comment

Jurnalisme untuk Mahasiswa Ekonomi · Delapan Belas Setengah Jam di Surabaya