Wartawan Profesional

Buat Eva di Surabaya,

Maaf baru sempat menulis sekarang. Percayalah, di sini aku sibuk banget (hehehe). Aku memang tak kuliah, tapi aku sibuk belajar — akhir-akhir ini aku lagi tertarik sama sejarah.

Pertama, kamu bilang nama dosenmu Sam Abede Parede. Yakin? Bukan Sam Abede Pareno? Aku coba search di Google, tapi yang aku temukan adalah Sam Abede Pareno, bukan Parede. Kalau Pareno, memang benar dia dulu wartawan Jawa Pos. Oleh Dahlan Iskan, dia pernah dikirim ke Suara Maluku, harian milik Kelompok Jawa Pos di Ambon, pada November 1993, untuk membenahi sisi redaksi koran itu.

Pareno orangnya keras, asal Seram. Di tangannya, oplah Suara Maluku naik sampai 8.000 eksemplar — sebelum akhirnya turun jadi 5.000 eksemplar menjelang konflik Ambon, 1999. Tapi karena tak disenangi orang-orang internal koran itu, dia “dikudeta” saat sedang naik haji, April 1996. Mereka kirim surat kepada Dahlan Iskan yang intinya minta supaya Pareno ditarik kembali ke Jawa Pos.

Aku tahu sedikit cerita ini dari laporan Eriyanto, analis media dari Institut Studi Arus Informasi, Jakarta. Majalah Pantau menerbitkan laporan itu pada 2 September 2002. Cukup menarik. Aku kira kamu juga harus baca laporan itu. Di situ tertulis soal profesionalisme wartawan (saat terjadi konflik).

Tempo hari kamu bilang, dosenmu punya pendapat bahwa wartawan tak bisa jadi idealis karena profesionalismenya. Dia menyodorkan dua contoh. Pertama, ada paparazzi yang tetap ambil gambar Lady Di sekarat waktu kecelakaan, dan tak menolongnya sampai Diana mati. Kedua, ada wartawan yang secara tak sengaja meliput kecelakaan pesawat, tapi lalu meninggalkan kameranya untuk menolong para penumpang.

Menurut dosenmu, contoh pertama adalah wartawan yang profesional karena dia mendapat materi dari keterampilan, keahlian, dan kepandaian yang dimiliki — atau, seperti katamu, “hidup dari profesi”. Contoh kedua adalah yang tak profesional.

Kini, coba kita buka buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Kovach dan Rosenstiel. Elemen ketujuh mengatakan bahwa berita harus menarik dan relevan. “Warga bisa menggunakan prinsip ini untuk menakar nilai jurnalisme yang mana saja yang mereka jumpai. Apakah mereka membawa sesuatu yang bermakna dari cara subjek itu diperlakukan? Sebuah profil selebritas yang memberi tahu kita mengapa Hollywood membuat film semacam itu jelas lebih punya relevansi daripada berita-berita sepele dan ringan tentang koleksi pakaian dalam selebritas yang sama.”

Buka juga majalah Pantau edisi September 2001. Di sana ada satu artikel Amalia Pulungan dan Andreas Harsono yang mengangkat profil James Nachtwey, wartawan foto perang yang menang berbagai penghargaan internasional. Ketika ditanya kapan seorang fotografer membantu orang yang difotonya dan kapan hanya jadi pengamat, Nachtwey menjawab, “Batasnya adalah ketika Anda hanya jadi satu-satunya orang yang bisa mengubah keadaan.”

Berita kecelakaan pesawat jelas punya relevansi buat warga. Dari sana warga bisa menilai kualitas sebuah maskapai, aspek cuaca, dan sebagainya, yang pada akhirnya akan membantu mereka mengambil keputusan. Pakai maskapai ini atau itu? Baikkah bepergian naik pesawat pada cuaca tertentu?

Kecelakaan pesawat juga kecelakaan besar. Tak mungkin seorang wartawan mampu mengubah keadaan sendirian. Mestinya dia cukup jadi pengamat, tetap ambil gambar, dan mewartakan kecelakaan itu kepada warga. Maka, aku setuju dengan dosenmu, wartawan kedua bukanlah seorang profesional.

Tapi wartawan pada contoh pertama juga perlu dipertanyakan lagi “profesionalisme”-nya. Wartawan yang profesional, semestinya, tak sekadar “hidup dari profesi”. Dia juga punya tanggungjawab untuk mengembangkan profesi itu sendiri. Setelah profesi itu berkembang, aku yakin, dengan sendirinya si wartawan juga akan terhidupi. Nah, kalau sudah begini, ukurannya bukan lagi terletak pada uang atau materi, seperti berapa harga foto kesekaratan Lady Di? Berapa harga berita kebiasaan seks Bill Clinton? Bukan begitu. Uang bukanlah tujuan.

Dalam kasus kecelakaan Diana di terowongan Pont de l’Alma, pertanyaan yang lebih substansial untuk dijawab wartawan adalah bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? Jika Diana adalah seorang tokoh, adakah motivasi politis di balik itu? Apakah kecelakaan itu alamiah, dan bukannya disengaja? Benarkah dugaan yang bilang paparazzi punya andil dalam kecelakaan itu?

Bukan bagaimana wajah Diana saat sekarat!

Lebih baik dia tolong itu Diana, bawa ke rumah sakit kek …. Kasihan juga kan, orang cantik dibiarkan sekarat? :D Setelah menolong Diana, si wartawan profesional masih punya tugas untuk jawab pertanyaan-pertanyaan yang aku tulis tadi. Jawaban-jawaban itu perlu disiarkan ke publik agar mereka tahu konteks yang melatari kecelakaan itu, dan mengambil sikap berdasarkan informasi yang relevan.

Begitu kira-kira pendapatku. Bagiku, idealisme seorang wartawan itu sejalan dengan profesionalismenya. Dan paparazzi yang meliput kematian Diana jelas bukan wartawan profesional!

Nah, pendapatmu sendiri gimana? Nanti kalau dosenmu ngajar lagi di UK Petra, suruh dia baca blog ini dan berkomentar. Aku ingin tahu apa tanggapan dia atas postingku. Aku pikir ini penting, karena menurutku, profesor filsafatmu itu telah bikin tesis yang keliru soal wartawan yang profesional.

13 Comments

  1. yup2.. bener2..
    pak Sam Abede Pareno..
    hhehehehee..
    waw.. jujur aq ga nyangka kalo beliau punya latarbelakang seheboh itu..
    hem…
    nanti aq minta beliau baca tulisanmu..ehehehheee…

    btw, tentang Pantau.. itu masih terbit?
    bukannya udah mati beberapa tahun lalu ya?

    thx bgt, bro.. ni biar aq cb pikirin juga..
    kalo aq tanya Rama, dia bilang, karena tugas wartawan mencari berita, so, kasus pertama adalah wartawan profesional. kalau kasus kedua menurut Rama, udah di atas profesional. entah apapun istilahnya.
    anyway,
    secara ga langsung juga beliau menyatakan kalau wartawan yang profesional itu tidak berperasaan! mementingkan hasil beritanya saja! gitu…
    beliau bilang, kalau kita masih mementingkan perasaan saat meliput itu berarti kita ini semi profesional..belum profesional!
    yah..
    aq ga bisa ngomong dulu..
    yang jelas aq emang ga setuju!
    karena kalau dengar dari semua penjelasan beliau, berarti aq ga bakal mau jadi profesional!

    oya, di beberapa kesempatan kuliah yang lalu, beliau pernah tanya, siapa saja yang anak jurnalis di sini.. saat aq n beberapa teman angkat tangan, beliau langsung bilang, “inilah wajah-wajah yang nantinya akan menyesal.. karena di kehidupan nyata, idealisme susah digunakan”
    jadi, menurut beliau, selama masih sekolah, banyak idealisme yang dipuja-puja, tapi pada saat masuk ke dunia kerja yang sebenarnya, maka idealisme itu akan jadi pudar, bahkan hilang!
    what about you, Bro?
    hehe
    =)

  2. Dear Eva,

    Aku sepakat bahwa tugas wartawan adalah mencari berita. Tapi mencari berita tentu tak sesimpel membawa alat tulis atau alat rekam, lalu terjun ke lapangan, bikin pengamatan, wawancara orang, lantas hasil-hasilnya ditulis sebagai laporan. Tak sesederhana itu.

    Ada etika. Ada banyak standar.

    Wartawan harus menyaring desas-desus. Memilah informasi yang relevan buat warga. Membedakan ranah privat dengan ranah publik. Mencari kebenaran. Mereka juga harus memberi tempat buat “the voiceless”. Serta ada banyak hal lain yang harus dimasukkan dalam pertimbangan ketika berjurnalisme. Tidak asal saja.

    Memang tak mudah. Semua butuh keringat dan mewajibkan kita untuk membanting tulang, hampir setiap saat. Tapi semua itu harus diusahakan. Jika tidak, wartawan memang akan jadi orang jahat. Dan kalau sudah begitu, lebih baik dia berhenti jadi wartawan. Daripada terus-terusan jadi penjahat?

    Aku nggak tahu persis apa yang terjadi sama Pareno ketika dia jadi wartawan, sampai dia bisa punya pendapat seperti itu. Tapi yang jelas, aku tak sepakat dengan dia.

    Kata-katanya — merujuk pada informasi-informasi yang kamu beri — hanyalah setitik sinisme bagiku. Dan sinisme seperti inilah, yang mungkin juga dimiliki banyak orang, yang harus para wartawan jawab dengan meningkatkan mutu jurnalismenya.

    Masih banyak wartawan yang bisa pegang idealismenya sampai tua, yang bisa dijadikan panutan. Ada Bill Kovach, ada Andreas Harsono. Idealis tidak berarti ideal, tapi dia mengusahakan ideal-ideal itu. Ada kalanya dia jatuh. Itu wajar sebagai manusia yang tak sempurna. Tapi begitu jatuh, dia insyaf, mau minta maaf, dan berusaha bangkit lagi. Begitu terus sampai matinya nanti.

  3. sam abede pareno

    Satria dan Eva yth,
    Saya jarang buka google pribadi, baru sekarang saya buka dan baca tulisan Anda berdua. Terima kasih ats kritik Satria. Pendapat Anda cermin dari wartawan yang belum ‘pure professional’, masih punya rasa kasihan pada objek. Ini persoalan besar yang membayangi wartawan Indonesia. Mencampuradukkan profesionalisme dengan amatirisme. Salah satu ciri nonprofesional ialah takut mengungkap kebenaran, suka menerima amplop, dan memilih rasa aman ketimbang berurusan dengan aparat ataupun masyarakat. Ah, cukup. Dan nggak perlu diperdebatkan lagi. Selamat bekerja,

  4. Pak Sam,

    Trims buat komentarnya.

    Saya punya dua pertanyaan, syukur-syukur Anda mau balik ke blog ini dan menjawab. Tapi enggak pun juga saya tak akan dongkol, toh Anda sudah tidak mau berdebat.

    Pertama, rasa “kasihan” seperti apa yang Anda maksud? Saya sendiri berpendapat bahwa wartawan harus tetap memakai hati nuraninya dalam memperlakukan sumber berita/objek, seraya menjaga independensi.

    Kedua, Anda bilang salah satu ciri wartawan nonprofesional adalah takut mengungkap kebenaran, suka terima amplop, dan memilih rasa aman ketimbang berurusan dengan aparat/masyarakat. Saya setuju dengan dua poin Anda yang terakhir. Tapi terhadap poin pertama, saya pikir, kita harus lebih hati-hati. Mengungkap kebenaran, kata Anda. Lantas pertanyaan saya, kebenaran yang bagaimana? Dimana? Kapan? Dari dan untuk siapa? Di sinilah saya pikir wartawan tidak bisa “gebyah uyah”.

    Salah satu pembedaan serius yang harus ada adalah tentang ranah privat dan ranah publik. Okelah, katakan paparazzi itu mengejar “kebenaran”, mengejar fakta, tentang sosok selebritis tertentu — dalam kasus di atas adalah Diana. Jepret-jepret-jepret, jadilah “fakta” dalam bentuk visual (foto). “Fakta” ini, yang menggambarkan kesekaratan Lady Di, tentunya tergolong privat, menyangkut pribadi tokoh. Tapi akhirnya — ini yang jadi poin kritik saya — fakta itu pun dirajut pada konteks yang sama-sama privatnya. Saya tidak pernah menemukan “berita kesekaratan” Diana ditulis dengan relevansi terhadap kepentingan publik yang lebih besar (kalau ada). Semua “berita” itu cuma menyampaikan satu premis: Diana sekarat, akan mati!

    Lalu apa yang spesial? Bukankah semua orang bisa sekarat dan akan mati? Paling-paling hal ini jadi “spesial” cuma karena selebritas Diana. Dan “berita” macam inilah yang tak ada bedanya dengan konsumsi acara gosip, infotainment, dan saudara-saudaranya. Kita bisa melihat perbedaan signifikan antara detikHot dengan rubrik “Sosok” harian Kompas bukan?

    Ketika Diana mati pun, bagi saya, informasi itu cuma cocok ditempatkan di sudut-sudut terdalam suratkabar (bukan headline), di rubrik “berita duka” dengan label “Ario”, “Carrera” — versi Inggris Raya.

    Terima kasih. Selamat bekerja.

  5. devi anggraeni

    aku ingin mengungkapkan,gmna yah sebenarnya ketegakan hukum ini,yang kecil aj bsa dimasukin ke penjara,tinggal urusan besar palh ga bsa ………………

  6. petry anjelika

    salam kenal semuanya :)

    saya sedang membuat skripsi yang kebetulan pembahasannya juga tentang profesionalisme wartawan yang diperhadapkan pada situasi dilematis sprti cth kasus diana, dn masih banyak kasus lain. saya mo tanya apa ‘keacuhan’ para wartawan itu dpt pengaruh dari keberadaan bystander juga apa semata” karena kadar profesionalime mereka yang memang tinggi. menurut anda gimana??

    thanks :)

  7. Satria Anandita

    @ petry anjelika: Trims atas komentarnya. :)

    Jujur, saya sendiri kurang tahu apa jawabnya. “Keacuhan” yang seperti apa? Bystander yang bagaimana? Dalam situasi seperti apa? Saya kira kasusnya perlu dideskripsikan terlebih dahulu.

    Sukses ya buat skripsinya. :)

  8. petry A

    Trimakasih mas mau reply :)

    Begini ceritanya..beberapa wartawan yg diwawancara ditanya ketika mereka dihadapkan pada situasi misal apakah mereka harus tetap meliput atau menolong orang lain yg sdh jelas didepan mata mereka butuh pertolongan (di daerah konflik misalnya)..dan jawaban 6 dari 7 wartawan adalah mereka akan tetap meliput. Walaupun sebenarnya mungkin itu berlawanan dgn hati nurani mereka.yg 1 menjawab ia manggil org lain yg ada du sekitar utk nolong korban itu.
    Bystander yg dimaksud keberadaan org lain yg ada di suatu situasi yg mungkin berpikiran utk menolong…
    Bgmn mnrt anda mas?

  9. Satria Anandita

    Petry, saya mau tanya, sebetulnya pengertian “meliput” itu apa sih? Bisa nggak seorang wartawan meliput dan sekaligus (dalam waktu bersamaan) menolong orang lain yang lagi susah di depan matanya sendiri?

    Selama ini ada anggapan bahwa dalam meliput suatu peristiwa (konflik, misalnya) seorang wartawan hanya boleh menjadi “pengamat”. Tidak boleh terlibat, karena (katanya) nanti beritanya jadi tidak objektif lagi. Padahal, apa sih “objektivitas” itu? Bukankah dalam keterlibatannya yang paling dalam sekalipun dengan suatu peristiwa, si wartawan tetap bisa “mengamati”? Tentu saja dengan perspektif yang mungkin berbeda dari jika ia “menjaga jarak” dan hanya “menjadi pengamat”. Seseorang yang terlibat dalam suatu peristiwa bisa saja memberi kesaksian yang lebih mendetail dan kontekstual, bukan? Begitu juga halnya dengan wartawan.

    Wartawan juga manusia dan pekerjaan jurnalisme juga untuk kemanusiaan. Manusia hidup dengan sesama, dan dalam kemanusiaan kita kenal tolong-menolong. Jadi, semestinya wartawan yang menolong orang lain (dalam peristiwa konflik, seperti kasus yang kamu ajukan) bisa tetap dianggap profesional.

    Gimana menurutmu sendiri?

  10. ya. saya setuju dengan pernyataan mas di kalimat terakhir, mereka SEMESTINYA tetap dianggap profesional. oya menurut mas sebenarnya profesionalisme itu mutlak atau relatif (dlm bidang apapun)?

    setelah baca reply dari mas, akhirnya saya dapat kata kunci ttg apa yg mo saya bahas (u inspire me, thanks hehe :). yang ingin lebih saya tekankan dalam tulisan saya nanti mengenai dilema moral wartawan dalam situasi seperti contoh diatas, (profesionalisme Vs kemanusiaan)..mmm sepertinya agak berat yaa, krna moral itu sendiri batasannya bisa di bilang ‘tidak mutlak’, menurut saya baik blm tentu mas bilang sesuatu itu baik. sebabnya krn moral itu sndiri menyentuh nilai-nilai religius.. mohon saran ya mass, spy saya bs dapat pencerahan..hehe maaf jd sesi cur hat :D

  11. Satria Anandita

    Saya senang sekali bisa jadi tempat curhatmu, non. :)

    Soal mutlak atau relatif, saya sendiri masih bingung dan mencari jawaban. Kalo saya bilang bahwa profesionalisme itu mutlak, apa dasar pijakannya? Kalo saya bilang itu relatif, seberapa besar kenisbiannya?

    Saya kira akan sangat berat dan rumit kalo kita mau pertentangkan profesionalisme wartawan dengan kemanusiaan, seperti idemu di atas. Kalo kita merujuk buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, akan tampak jelas pada elemen kesembilan bahwa para praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.

    Nurani sangat dekat posisinya dengan moral dan kemanusiaan. Artinya, seorang wartawan profesional (menurut definisi Kovach-Rosenstiel) adalah wartawan yang memiliki nurani, dan moral, dan kemanusiaan.

    Bagaimana, non? :)

  12. petry anjelika

    wahh..rumit yaa :)

    profesionalismenya(wartawan) sendiri sudah menyangkut banyak hal: nurani,moral, kemanusiaan,…benar kata mas, berat dan rumit jika 2 hal yg berkaitan satu sama lain dipertentangkan.
    Belum lagi penjabaran moral yang subyektif dan pastinya rumit….waduuuuh!

    thanks ya mas sudah mau menampung curcol saya hehe :)
    God Bless..

  13. Satria Anandita

    Pet, kamu mau nulis apa sih sebetulnya? :)

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Mendidik Manusia - Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya.
    • Kreativitas Bertanggungjawab - Kalau manusia destruktif terhadap alam, itu artinya manusia sudah destruktif terhadap dirinya sendiri.
    • Kurikulum Berbasis Ketakutan - Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja? Apa gunanya...