<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Wartawan Profesional</title>
	<atom:link href="http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str</link>
	<description>I&#039;m going nowhere!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 15:38:53 -0500</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2594</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 03:45:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2594</guid>
		<description>Pet, kamu mau nulis apa sih sebetulnya? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pet, kamu mau nulis apa sih sebetulnya? :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: petry anjelika</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2593</link>
		<dc:creator>petry anjelika</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 03:28:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2593</guid>
		<description>wahh..rumit yaa :)

profesionalismenya(wartawan) sendiri sudah menyangkut banyak hal: nurani,moral, kemanusiaan,...benar kata mas, berat dan rumit jika 2 hal yg berkaitan satu sama lain dipertentangkan.
Belum lagi penjabaran moral yang subyektif dan pastinya rumit....waduuuuh!

thanks ya mas sudah mau menampung curcol saya hehe :)
God Bless..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wahh..rumit yaa :)</p>
<p>profesionalismenya(wartawan) sendiri sudah menyangkut banyak hal: nurani,moral, kemanusiaan,&#8230;benar kata mas, berat dan rumit jika 2 hal yg berkaitan satu sama lain dipertentangkan.<br />
Belum lagi penjabaran moral yang subyektif dan pastinya rumit&#8230;.waduuuuh!</p>
<p>thanks ya mas sudah mau menampung curcol saya hehe :)<br />
God Bless..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2590</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 18:55:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2590</guid>
		<description>Saya senang sekali bisa jadi tempat curhatmu, non. :)

Soal mutlak atau relatif, saya sendiri masih bingung dan mencari jawaban. Kalo saya bilang bahwa profesionalisme itu mutlak, apa dasar pijakannya? Kalo saya bilang itu relatif, seberapa besar kenisbiannya?

Saya kira akan sangat berat dan rumit kalo kita mau pertentangkan profesionalisme wartawan dengan kemanusiaan, seperti idemu di atas. Kalo kita merujuk buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, akan tampak jelas pada elemen kesembilan bahwa para praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.

Nurani sangat dekat posisinya dengan moral dan kemanusiaan. Artinya, seorang wartawan profesional (menurut definisi Kovach-Rosenstiel) adalah wartawan yang memiliki nurani, dan moral, dan kemanusiaan.

Bagaimana, non? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya senang sekali bisa jadi tempat curhatmu, non. :)</p>
<p>Soal mutlak atau relatif, saya sendiri masih bingung dan mencari jawaban. Kalo saya bilang bahwa profesionalisme itu mutlak, apa dasar pijakannya? Kalo saya bilang itu relatif, seberapa besar kenisbiannya?</p>
<p>Saya kira akan sangat berat dan rumit kalo kita mau pertentangkan profesionalisme wartawan dengan kemanusiaan, seperti idemu di atas. Kalo kita merujuk buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang ditulis Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, akan tampak jelas pada elemen kesembilan bahwa para praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.</p>
<p>Nurani sangat dekat posisinya dengan moral dan kemanusiaan. Artinya, seorang wartawan profesional (menurut definisi Kovach-Rosenstiel) adalah wartawan yang memiliki nurani, dan moral, dan kemanusiaan.</p>
<p>Bagaimana, non? :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: petry</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2589</link>
		<dc:creator>petry</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 13:54:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2589</guid>
		<description>ya. saya setuju dengan pernyataan mas di kalimat terakhir, mereka SEMESTINYA tetap dianggap profesional. oya menurut mas sebenarnya profesionalisme itu mutlak atau relatif (dlm bidang apapun)?

setelah baca reply dari mas, akhirnya saya dapat kata kunci ttg apa yg mo saya bahas (u inspire me, thanks hehe :). yang ingin lebih saya tekankan dalam tulisan saya nanti mengenai dilema moral wartawan dalam situasi seperti contoh diatas, (profesionalisme Vs kemanusiaan)..mmm sepertinya agak berat yaa, krna moral itu sendiri batasannya bisa di bilang &#039;tidak mutlak&#039;, menurut saya baik blm tentu mas bilang sesuatu itu baik. sebabnya krn moral itu sndiri menyentuh nilai-nilai religius.. mohon saran ya mass, spy saya bs dapat pencerahan..hehe maaf jd sesi cur hat :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya. saya setuju dengan pernyataan mas di kalimat terakhir, mereka SEMESTINYA tetap dianggap profesional. oya menurut mas sebenarnya profesionalisme itu mutlak atau relatif (dlm bidang apapun)?</p>
<p>setelah baca reply dari mas, akhirnya saya dapat kata kunci ttg apa yg mo saya bahas (u inspire me, thanks hehe :). yang ingin lebih saya tekankan dalam tulisan saya nanti mengenai dilema moral wartawan dalam situasi seperti contoh diatas, (profesionalisme Vs kemanusiaan)..mmm sepertinya agak berat yaa, krna moral itu sendiri batasannya bisa di bilang &#8216;tidak mutlak&#8217;, menurut saya baik blm tentu mas bilang sesuatu itu baik. sebabnya krn moral itu sndiri menyentuh nilai-nilai religius.. mohon saran ya mass, spy saya bs dapat pencerahan..hehe maaf jd sesi cur hat :D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2550</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 16:20:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2550</guid>
		<description>Petry, saya mau tanya, sebetulnya pengertian &quot;meliput&quot; itu apa sih? Bisa nggak seorang wartawan meliput dan sekaligus (dalam waktu bersamaan) menolong orang lain yang lagi susah di depan matanya sendiri?

Selama ini ada anggapan bahwa dalam meliput suatu peristiwa (konflik, misalnya) seorang wartawan hanya boleh menjadi &quot;pengamat&quot;. Tidak boleh terlibat, karena (katanya) nanti beritanya jadi tidak objektif lagi. Padahal, apa sih &quot;objektivitas&quot; itu? Bukankah dalam keterlibatannya yang paling dalam sekalipun dengan suatu peristiwa, si wartawan tetap bisa &quot;mengamati&quot;? Tentu saja dengan perspektif yang mungkin berbeda dari jika ia &quot;menjaga jarak&quot; dan hanya &quot;menjadi pengamat&quot;. Seseorang yang terlibat dalam suatu peristiwa bisa saja memberi kesaksian yang lebih mendetail dan kontekstual, bukan? Begitu juga halnya dengan wartawan.

Wartawan juga manusia dan pekerjaan jurnalisme juga untuk kemanusiaan. Manusia hidup dengan sesama, dan dalam kemanusiaan kita kenal tolong-menolong. Jadi, semestinya wartawan yang menolong orang lain (dalam peristiwa konflik, seperti kasus yang kamu ajukan) bisa tetap dianggap profesional.

Gimana menurutmu sendiri?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Petry, saya mau tanya, sebetulnya pengertian &#8220;meliput&#8221; itu apa sih? Bisa nggak seorang wartawan meliput dan sekaligus (dalam waktu bersamaan) menolong orang lain yang lagi susah di depan matanya sendiri?</p>
<p>Selama ini ada anggapan bahwa dalam meliput suatu peristiwa (konflik, misalnya) seorang wartawan hanya boleh menjadi &#8220;pengamat&#8221;. Tidak boleh terlibat, karena (katanya) nanti beritanya jadi tidak objektif lagi. Padahal, apa sih &#8220;objektivitas&#8221; itu? Bukankah dalam keterlibatannya yang paling dalam sekalipun dengan suatu peristiwa, si wartawan tetap bisa &#8220;mengamati&#8221;? Tentu saja dengan perspektif yang mungkin berbeda dari jika ia &#8220;menjaga jarak&#8221; dan hanya &#8220;menjadi pengamat&#8221;. Seseorang yang terlibat dalam suatu peristiwa bisa saja memberi kesaksian yang lebih mendetail dan kontekstual, bukan? Begitu juga halnya dengan wartawan.</p>
<p>Wartawan juga manusia dan pekerjaan jurnalisme juga untuk kemanusiaan. Manusia hidup dengan sesama, dan dalam kemanusiaan kita kenal tolong-menolong. Jadi, semestinya wartawan yang menolong orang lain (dalam peristiwa konflik, seperti kasus yang kamu ajukan) bisa tetap dianggap profesional.</p>
<p>Gimana menurutmu sendiri?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: petry A</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2548</link>
		<dc:creator>petry A</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 03:25:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2548</guid>
		<description>Trimakasih mas mau reply :)

Begini ceritanya..beberapa wartawan yg diwawancara ditanya ketika mereka dihadapkan pada situasi misal apakah mereka harus tetap meliput atau menolong orang lain yg sdh jelas didepan mata mereka butuh pertolongan (di daerah konflik misalnya)..dan jawaban 6 dari 7 wartawan adalah mereka akan tetap meliput. Walaupun sebenarnya mungkin itu berlawanan dgn hati nurani mereka.yg 1 menjawab ia manggil org lain yg ada du sekitar utk nolong korban itu.
Bystander yg dimaksud keberadaan org lain yg ada di suatu situasi yg mungkin berpikiran utk menolong...
Bgmn mnrt anda mas?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Trimakasih mas mau reply :)</p>
<p>Begini ceritanya..beberapa wartawan yg diwawancara ditanya ketika mereka dihadapkan pada situasi misal apakah mereka harus tetap meliput atau menolong orang lain yg sdh jelas didepan mata mereka butuh pertolongan (di daerah konflik misalnya)..dan jawaban 6 dari 7 wartawan adalah mereka akan tetap meliput. Walaupun sebenarnya mungkin itu berlawanan dgn hati nurani mereka.yg 1 menjawab ia manggil org lain yg ada du sekitar utk nolong korban itu.<br />
Bystander yg dimaksud keberadaan org lain yg ada di suatu situasi yg mungkin berpikiran utk menolong&#8230;<br />
Bgmn mnrt anda mas?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2542</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 23:03:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2542</guid>
		<description>@ petry anjelika: Trims atas komentarnya. :)

Jujur, saya sendiri kurang tahu apa jawabnya. &quot;Keacuhan&quot; yang seperti apa? Bystander yang bagaimana? Dalam situasi seperti apa? Saya kira kasusnya perlu dideskripsikan terlebih dahulu.

Sukses ya buat skripsinya. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ petry anjelika: Trims atas komentarnya. :)</p>
<p>Jujur, saya sendiri kurang tahu apa jawabnya. &#8220;Keacuhan&#8221; yang seperti apa? Bystander yang bagaimana? Dalam situasi seperti apa? Saya kira kasusnya perlu dideskripsikan terlebih dahulu.</p>
<p>Sukses ya buat skripsinya. :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: petry anjelika</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2540</link>
		<dc:creator>petry anjelika</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 17:03:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2540</guid>
		<description>salam kenal semuanya :)

saya sedang membuat skripsi yang kebetulan pembahasannya juga tentang profesionalisme wartawan yang diperhadapkan pada situasi dilematis sprti cth kasus diana, dn masih banyak kasus lain. saya mo tanya apa &#039;keacuhan&#039; para wartawan itu dpt pengaruh dari keberadaan bystander juga apa semata&quot; karena kadar profesionalime mereka yang memang tinggi. menurut anda gimana??

thanks :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal semuanya :)</p>
<p>saya sedang membuat skripsi yang kebetulan pembahasannya juga tentang profesionalisme wartawan yang diperhadapkan pada situasi dilematis sprti cth kasus diana, dn masih banyak kasus lain. saya mo tanya apa &#8216;keacuhan&#8217; para wartawan itu dpt pengaruh dari keberadaan bystander juga apa semata&#8221; karena kadar profesionalime mereka yang memang tinggi. menurut anda gimana??</p>
<p>thanks :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: devi anggraeni</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-2430</link>
		<dc:creator>devi anggraeni</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 10:34:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-2430</guid>
		<description>aku ingin mengungkapkan,gmna yah sebenarnya ketegakan hukum ini,yang kecil aj bsa dimasukin ke penjara,tinggal urusan besar palh ga bsa ..................</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku ingin mengungkapkan,gmna yah sebenarnya ketegakan hukum ini,yang kecil aj bsa dimasukin ke penjara,tinggal urusan besar palh ga bsa &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: STR</title>
		<link>http://satria.anandita.net/wartawan-yang-profesional.str#comment-1503</link>
		<dc:creator>STR</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 23:50:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=144#comment-1503</guid>
		<description>Pak Sam,

Trims buat komentarnya.

Saya punya dua pertanyaan, syukur-syukur Anda mau balik ke blog ini dan menjawab. Tapi enggak pun juga saya tak akan dongkol, toh Anda sudah tidak mau berdebat.

Pertama, rasa &quot;kasihan&quot; seperti apa yang Anda maksud? Saya sendiri berpendapat bahwa wartawan harus tetap memakai hati nuraninya dalam memperlakukan sumber berita/objek, seraya menjaga independensi.

Kedua, Anda bilang salah satu ciri wartawan nonprofesional adalah takut mengungkap kebenaran, suka terima amplop, dan memilih rasa aman ketimbang berurusan dengan aparat/masyarakat. Saya setuju dengan dua poin Anda yang terakhir. Tapi terhadap poin pertama, saya pikir, kita harus lebih hati-hati. Mengungkap kebenaran, kata Anda. Lantas pertanyaan saya, kebenaran yang bagaimana? Dimana? Kapan? Dari dan untuk siapa? Di sinilah saya pikir wartawan tidak bisa &quot;gebyah uyah&quot;.

Salah satu pembedaan serius yang harus ada adalah tentang ranah privat dan ranah publik. Okelah, katakan paparazzi itu mengejar &quot;kebenaran&quot;, mengejar fakta, tentang sosok selebritis tertentu -- dalam kasus di atas adalah Diana. Jepret-jepret-jepret, jadilah &quot;fakta&quot; dalam bentuk visual (foto). &quot;Fakta&quot; ini, yang menggambarkan kesekaratan Lady Di, tentunya tergolong privat, menyangkut pribadi tokoh. Tapi akhirnya -- ini yang jadi poin kritik saya -- fakta itu pun dirajut pada konteks yang sama-sama privatnya. Saya tidak pernah menemukan &quot;berita kesekaratan&quot; Diana ditulis dengan relevansi terhadap kepentingan publik yang lebih besar (kalau ada). Semua &quot;berita&quot; itu cuma menyampaikan satu premis: Diana sekarat, akan mati!

Lalu apa yang spesial? Bukankah semua orang bisa sekarat dan akan mati? Paling-paling hal ini jadi &quot;spesial&quot; cuma karena selebritas Diana. Dan &quot;berita&quot; macam inilah yang tak ada bedanya dengan konsumsi acara gosip, infotainment, dan saudara-saudaranya. Kita bisa melihat perbedaan signifikan antara detikHot dengan rubrik &quot;Sosok&quot; harian Kompas bukan?

Ketika Diana mati pun, bagi saya, informasi itu cuma cocok ditempatkan di sudut-sudut terdalam suratkabar (bukan headline), di rubrik &quot;berita duka&quot; dengan label &quot;Ario&quot;, &quot;Carrera&quot; -- versi Inggris Raya.

Terima kasih. Selamat bekerja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Sam,</p>
<p>Trims buat komentarnya.</p>
<p>Saya punya dua pertanyaan, syukur-syukur Anda mau balik ke blog ini dan menjawab. Tapi enggak pun juga saya tak akan dongkol, toh Anda sudah tidak mau berdebat.</p>
<p>Pertama, rasa &#8220;kasihan&#8221; seperti apa yang Anda maksud? Saya sendiri berpendapat bahwa wartawan harus tetap memakai hati nuraninya dalam memperlakukan sumber berita/objek, seraya menjaga independensi.</p>
<p>Kedua, Anda bilang salah satu ciri wartawan nonprofesional adalah takut mengungkap kebenaran, suka terima amplop, dan memilih rasa aman ketimbang berurusan dengan aparat/masyarakat. Saya setuju dengan dua poin Anda yang terakhir. Tapi terhadap poin pertama, saya pikir, kita harus lebih hati-hati. Mengungkap kebenaran, kata Anda. Lantas pertanyaan saya, kebenaran yang bagaimana? Dimana? Kapan? Dari dan untuk siapa? Di sinilah saya pikir wartawan tidak bisa &#8220;gebyah uyah&#8221;.</p>
<p>Salah satu pembedaan serius yang harus ada adalah tentang ranah privat dan ranah publik. Okelah, katakan paparazzi itu mengejar &#8220;kebenaran&#8221;, mengejar fakta, tentang sosok selebritis tertentu &#8212; dalam kasus di atas adalah Diana. Jepret-jepret-jepret, jadilah &#8220;fakta&#8221; dalam bentuk visual (foto). &#8220;Fakta&#8221; ini, yang menggambarkan kesekaratan Lady Di, tentunya tergolong privat, menyangkut pribadi tokoh. Tapi akhirnya &#8212; ini yang jadi poin kritik saya &#8212; fakta itu pun dirajut pada konteks yang sama-sama privatnya. Saya tidak pernah menemukan &#8220;berita kesekaratan&#8221; Diana ditulis dengan relevansi terhadap kepentingan publik yang lebih besar (kalau ada). Semua &#8220;berita&#8221; itu cuma menyampaikan satu premis: Diana sekarat, akan mati!</p>
<p>Lalu apa yang spesial? Bukankah semua orang bisa sekarat dan akan mati? Paling-paling hal ini jadi &#8220;spesial&#8221; cuma karena selebritas Diana. Dan &#8220;berita&#8221; macam inilah yang tak ada bedanya dengan konsumsi acara gosip, infotainment, dan saudara-saudaranya. Kita bisa melihat perbedaan signifikan antara detikHot dengan rubrik &#8220;Sosok&#8221; harian Kompas bukan?</p>
<p>Ketika Diana mati pun, bagi saya, informasi itu cuma cocok ditempatkan di sudut-sudut terdalam suratkabar (bukan headline), di rubrik &#8220;berita duka&#8221; dengan label &#8220;Ario&#8221;, &#8220;Carrera&#8221; &#8212; versi Inggris Raya.</p>
<p>Terima kasih. Selamat bekerja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
