Yang Penting Enak

Suatu siang Hasyim Muzadi mampir di kampus. Oleh Campus Ministry, ia diminta bicara soal peluang dan tantangan pluralitas agama di Indonesia.

Hasyim bilang, untuk menyangga kerukunan antarumat beragama yang plural diperlukan adanya moderasi sikap dan pemikiran. Ia tidak menganjurkan liberalisme yang cenderung mengorbankan prinsip-prinsip keagamaan demi toleransi, ataupun fundamentalisme yang menaruh toleransi dan kemanusiaan di bawah kepentingan agamis. “Moderat itu natural, apa adanya saja,” kata mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu.

Ambillah contoh, soal salat, misalnya. Bagi Hasyim, persoalannya bukan orang Islam boleh tidak salat atau tidak. Katanya, jadi orang Islam itu harus salat, tidak peduli apakah orang lain mau ikut salat atau tidak. Kalau sampai seseorang masuk Islam dan salat karena dipaksa, Hasyim bilang Islam dan salatnya tidak sah. Jadi, kalau orang lain maunya berdoa di gereja, biar saja. Tidak perlu diganggu. Itulah toleransi.

Ingat toleransi, jadi ingat mahasiswa psikologi namanya Evan Adiananta. Dia pernah tulis catatan di Facebook: “Bagaimana kalau saya bersikap fanatik terhadap toleransi? Dan bagaimana bila saya bersikap toleran terhadap fanatisme?”

Biasanya, orang fanatik tidak toleran, dan orang toleran tidak fanatik. Tapi, toleran atau fanatik terhadap apa dulu? Kalau orang jadi fanatik terhadap toleransi, apa dia akan babat habis kaum agamis fanatik yang intoleran? Sedangkan kalau orang jadi toleran terhadap fanatisme, apa dia akan diam saja terhadap agresi kelompok fanatik? Ataukah mau dibilang bahwa toleransi itu cuma sampai batas tertentu, sehingga ketika batas itu dilewati kita boleh jadi intoleran? Kekerasan memang sebisa mungkin dihindari, tapi kalau sudah tidak terelakkan, apa boleh buat?

Begitu juga dengan moderasi sikapnya Hasyim Muzadi. Kalau semua orang Islam dimoderasi, sehingga semua jadi moderat dan tidak ada lagi kaum liberal maupun fundamentalis, lantas dimana letak kepelbagaian? Apakah moderasi demi kerukunan harus sampai meniadakan liberalisme dan fundamentalisme? Bagaimana? Pusing, kan?

Isme-isme memang jago bikin pusing. Jadi, bagaimana kalau kita buang saja para isme itu dari percakapan? Katanya, agama dibuat untuk membantu manusia lebih dekat kepada Tuhan. Tuhan saja sudah sulit dipahami. Kalau masih harus ditambah isme-isme tadi, bikin tambah pusing saja. Terus buat apa beragama? Cari pusing? Hidup itu enaknya cari enak, bukan cari pusing.

Karena hidup itu enaknya cari enak, maka pilihlah agama yang paling enak buat Anda. Indikatornya, Anda merasa sreg dan nyaman. Kalau beragama ternyata cuma bikin Anda gundah gulana dan gelap gulita, buat apa? Lebih baik tidak usah beragama. Tapi, kalau Anda tidak kuat berada di luar agama, ya tidak perlu memaksakan diri. Masuk saja lagi.

Dan ingat, orang lain juga punya hak yang sama dengan Anda. Mereka boleh pilih agama yang paling pas buat mereka. Pilihan itu bisa jadi beda dari pilihan Anda, dan itu sah saja. Yang penting, setiap orang boleh memilih untuk dirinya sendiri. Istilah kerennya, bagiku agamaku bagimu agamamu.

Lho? Bukankah sikap ini mirip dengan anjuran Hasyim Muzadi? Berarti sikap moderat itu yang benar, ya? Tidak tahu. Memang yang benar itu seperti apa? Dan kenapa masih saja mencari mana yang benar? Orang yang masih suka cari-cari yang benar itu biasanya malah belum benar. Kalau sudah benar, buat apa cari-cari terus? Tapi kalau hanya merasa benar, itu sudah lain soal. Yang merasa benar biasanya juga belum tentu benar. Itu sebabnya kita perlu sikap kritis.

Kalau kita bersikap kritis, kita bisa lihat bahwa sebetulnya agama itu ciptaan manusia saja. Dan kalau semua agama itu bikinan manusia, mana ada yang sempurna? Mana ada yang benar seratus persen? Katanya, kebenaran itu milik Tuhan saja. Jadi, bisa dipastikan bahwa kesalahan itu jatahnya manusia dan agama.

Tapi, bukan berarti manusia dan agama menjadi tidak penting. Soalnya, kalau tidak ada kesalahan, mana ada kebenaran? Kalau tidak ada manusia dan agama, mana ada Tuhan? Jadi, pada hakikatnya, bisa dikatakan kalau sebenarnya manusia, agama, dan Tuhan itu saling melengkapi. Secara bersama-sama, ketiganya mampu berkoeksistensi menciptakan perdamaian, juga peperangan. Jadi, tinggal pilih, mau damai atau perang? Kalau sudah tahu damai itu enak, dan perang tidak enak (seperti di Ambon atau Poso), masak iya masih mau berangkat perang? Paling-paling, menyesal belakangan.